• Selasa, 6 Desember 2022

Mitologi Penjelmaan Dewa Wisnu: Kurma (Part 2)

- Jumat, 30 September 2022 | 19:40 WIB
Ilustrasi Dewa Wisnu yang menjelma kura-kura raksasa. (Raja Ravi Varma/Dok. Wikipedia)
Ilustrasi Dewa Wisnu yang menjelma kura-kura raksasa. (Raja Ravi Varma/Dok. Wikipedia)

Terpantau.com - Pemeluk ajaran Hindu meyakini penjelmaan ruh dalam wujud lain atau inkarnasi. Dikenal sebagai awatara, penjelmaan semacam ini juga terjadi pada salah satu dewa tertinggi Hindu, Dewa Wisnu

Dewa Wisnu diyakini memiliki dasa awatara atau 10 inkarnasi. Salah satunya berwujud kura-kura raksasa atau "kurma". 

Dikisahkan, Dewa Wisnu yang mewujud kura-kura raksasa mengapung di lautan susu atau ksirarnawa. Di dasar ksinarnawa terdapat harta karun dan air suci atau tirta amerta yang dapat membuat peminumnya hidup abadi.

Para dewa dan asura (raksasa) berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Karena berada di dasar laut, maka perlu diadakan usaha agar segala harta benda yang ada di dasar laut itu terangkat keatas. Mereka memutuskan untuk mengaduk laut.

Alat yang digunakan untuk mengaduk laut berupa gunung yang bernama Mandara.  Para dewa dan asura mengikat gunung tersebut dengan naga Wasuki dan memutarnya. Kurma atau penjelmaan Dewa Wisnu menopang dasar gunung tersebut dengan tempurungnya. Dewa Indra memegang puncak gunung tersebut agar tidak terangkat ke atas. Setelah sekian lama tirta amerta berhasil didapat dan Dewa Wisnu mengambil alih.

Kisah dari pencarian air amerta ini terdapat pada zaman Satyayuga, para dewa dan asura (raksasa) bersidang di puncak gunung Meru mencari cara untuk mendapatkan air amerta yang berada di lautan susu. Atas saran Narayana (Dewa Wisnu) mereka mencarinya di lautan susu atau laut Ksira (Ksirasagara).

Sebagai alat pengaduk mereka mencabut sebuah gunung yaitu Gunung Mandara yang terdapat di Pulau Sangka Dwipa (Pulau Sangka). Gunung tersebut dicabut oleh Sang Anantaboga. Setelah mendapat izin dari Baruna (Dewa Samudra), mereka membawa gunung Mandara ke tengah laut Ksira. Kurma menjadi dasar pangkal gunung tersebut. Ia menahan gunung Mandara supaya tidak tenggelam.

Untuk tali sebagai pembeli gunung dipergunakanlah Naga Basuki. Dewa Indra menduduki puncaknya, suapaya gunung tersebut tidak melambung ke atas. Setelah siap, para dewa dan asura mulai memutar gunung Mandara. Para dewa memegang ekornya sedangkan para asura memegang kepalanya. Mereka berjuang mendapatkan tirta amerta sehingga laut bergemuruh. Gunung Mandara menyala, sementara Naga Basuki menyemburkan bisa yang membuat pihak asura kepanasan. Lalu Dewa Indra memanggil awan mendung yang kemudian mengguyur para asura. Lemak segala binatang di gunung Mandara beserta minyak kayu hutannya membuat lautan Ksira mengental. Pemutaran Gunung Mandara pun makin diperhebat.

Saat lautan diaduk, racun mematikan yang disebut Halahala menyebar. Racun tersebut dapat membunuh segala makhluk hidup. Dewa Siwa kemudian meminum racun tersebut maka lehernya menjadi biru dan disebut Nilakantha. Dalam  bahasa Sansekerta,  Nila berarti biru, Kanta berarti tenggorokan. Setelah itu, berbagai dewa-dewi, binatang, dan harta karun muncul, yaitu:

Halaman:

Editor: Tasia Wulandari

Sumber: Wikipedia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gramatika vs SEO, Para Konten Kreator Wajib Pahami!

Sabtu, 3 Desember 2022 | 19:47 WIB

5 Perayaan Natal Terunik Yang Hanya Ada Di Indonesia

Sabtu, 3 Desember 2022 | 16:30 WIB

Yuk Kenali Kepribadian Kamu Dari Mie Instan Favoritmu

Jumat, 2 Desember 2022 | 16:10 WIB
X