Setelah makan malam, aku masuk ke bilik permenunganku. Diterangi cahaya lilin, Sr. Widati menemaniku. Suster Widati memberiku pandangan-pandangan baru. Satu pertanyaan yang menohokku. Apakah aku benar sudah mantap memilih Valiant? "Kamu punya waktu sampai Jumat disini, Ivy" katanya "Dan sisa waktu lebihnya, sampai sebelum kamu melangkah ke altar dan mengatakan saya bersedia, dalam suka dan duka, untung dan malang" begitu wejangan Suster Widati. Kemudian Suster itu meninggalkanku, dengan memberikan beban pikiran yang demikian menghujam dan setumpuk bacaan dan doa yang harus aku renungan.
Bagaimana perasaanku sesungguhnya terhadap Valiant? Mau tak mau aku harus menelisiknya satu per satu dan kemudian sampai pada satu kesadaran bahwa Valiant memang ada. Perjalananku untuk mencoba mengingat semuanya sampai pada satu kesimpulan, mengapa perasaanku seolah tidak menetap. Hanya satu yang pasti, aku merasa Valiant terlalu frontal mendekatiku, dan aku merasa seolah aku tak menginginkannya. Lain dengan Diaz, yang dalam dugaanku semula, aku yang mengejar-ngejar dia. Dan Diego? Tak tahu angin darimana, aku menginginkan Diego, tapi saat itu aku sudah terikat janji pada Valiant. Ditambah kenyataan kalau aku memilih Diego, maka nyawanya akan menjadi taruhannya. Akankah aku merelakan nyawanya hanya demi keinginanku? Oh tidak. "Berarti kau mencintai Diego?" tanya suara hatiku. "Mungkin sekali" jawabku.
Tapi kemudian suara hatiku yang lain meradang. "Kau juga tak mau Valiant menderita" katanya. Lalu aku ingat ketika aku membatalkan permintaanku agar Valiant menghapus tatonya. "Kau mencintai Valiant bukan?" tanya suara itu. Aku menggeleng. "Aku tak tahu. Mungkin aku kasihan sama Valiant" gumanku. "Stupid idiot" kata suara hatiku yang lain "Valiant tak perlu belas kasihanmu" katanya "Dia perkasa di segala lini dan cuaca" lanjutnya "Apa pembelaanmu?" Aku tak tahu harus menjawab apa dengan cecaran pertanyaan begitu. Yang pasti malam ini aku rindu Valiant. Serindu-rindunya.
SDS. 25.07.2020
Spoiler episode berikutnya karena resah dan kelelahan, akhirnya Ivy tertidur dan dia bermimpi.
Dalam mimpinya dia melihat Valiant di masa tuanya. Akhirnya Ivy sadar bahwa pilihannya terhadap valiant memang keputusan yang tepat.
Simak terus ya lanjutannya. ***