Baca Juga: Salip Jepang, Kini Singapura Memiliki Paspor Paling Kuat di Dunia
Daftar hal-hal yang mereka yakini tidak sepadan dengan waktu mereka:
1. Tidak ada yang mengatakan bahwa untuk menjadi bahagia Anda harus bekerja sekeras yang Anda bisa untuk mendapatkan uang.
2. Tidak ada yang mengatakan bahwa menjadi sekaya orang-orang di sekitar Anda adalah hal yang penting.
3. Tidak ada yang mengatakan Anda harus memilih karier berdasarkan potensi penghasilannya.
4. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa mereka menyesal tidak membalas dendam kepada seseorang yang meremehkan mereka.
Sementara itu, menurut salah satu respondennya, penyesalan terbesar yang mereka alami yakni khawatir terhadap hal-hal yang tidak pernah terjadi.
'Kebahagiaan adalah sebuah pilihan, bukan suatu kondisi'
Pillemer menggambarkan orang-orang dalam penelitiannya sebagai pakar paling kredibel yang dimiliki tentang bagaimana menjalani kehidupan yang bahagia dan memuaskan selama masa-masa sulit.
Dia pun juga meminta seorang responden untuk menjelaskan mengapa dia begitu puas. Lalu responden itu pun menjawab bahwa pada usianya yang ke-89 ia telah belajar tentang kebahagiaan yang merupakan sebuah pilihan, bukan sebuah kondisi.
Pillemer mencatat bahwa para orang tua yang dia ajak bicara membuat perbedaan penting antara kekuatan luar dan peristiwa yang terjadi pada mereka, dan sikap internal mereka tentang kebahagiaan.
"Kebahagiaan bukanlah kondisi pasif yang bergantung pada kejadian eksternal, juga bukan hasil dari kepribadian kita hanya terlahir sebagai orang yang bahagia. Sebaliknya, kebahagiaan membutuhkan perubahan pandangan secara sadar, di mana seseorang memilih optimisme daripada pesimisme, harapan daripada keputusasaan," paparnya.
Dengan demikian, semakin seseorang menua, maka semakin bisa melihat sesuatu.
"Ketika Anda merasa tertekan karena suatu hal eksternal, bukan hal itu sendiri yang menyusahkan Anda, namun hanya penilaian Anda terhadap hal tersebut. Dan Anda dapat menghapusnya kapan saja," ungkapnya.