Terpantau.com - Pusbintal TNI menyelenggarakan acara pembinaan dengan tema Penguatan Ideologi Pancasila Dalam Rangka Pencegahan Potensi Konflik Radikalisme Tahun 2022.
Penggagasnya adalah Romo Kolonel Sus Yoseph M.M Bintoro, S.Fil., M.Sc., Pr atau Romo Yos Bintoro selaku Kepala Bidang Pembinaan Mental Ideologi Pusbintal TNI.
Acara yang diselenggarakan di Mabes TNI ini dihadiri oleh Kapusbintal TNI, Laksmana Pertama TNI, Drs. Ian Heriyawan, CHRMP, Staf Teritorial, Staf Intelinjen, Staf Personel dan Komandan Satuan Pemukul Koopsus, Kostrad, Kopassus, Marinir, Kopasgat.
Dalam materi pembinaan tentang penguatan ideologi Pancasila, Romo Kolonel Sus Yoseph M.M Bintoro, S.Fil., M.Sc., Pr atau Romo Yos Bintoro yang juga dikenal dengan Romo Yote ini memaparkan makalah dengan judul 'Mengukur Ketahanan Ideologi Pancasila'.
Saat ini, Ketahanan Ideologi Pancasila menghadapi ujian dan tantangan di era globalisasi dengan masuknya ideologi alternatif ke dalam segenap sendi-sendi bangsa melalui media informasi yang dapat dijangkau oleh seluruh anak bangsa seperti : radikalisme, terorisme, dan hedonisme.
Betapa pentingnya ketahanan nasional yang komprehensif. Perang modern bukan sekedar perang militer, melainkan peperangan yang menyangkut seluruh unsur yang dimiliki rakyat. Ada fenomena kuat dalam kehidupan masyarakat global, bahwa kehidupan liberalis dengan basis kehidupan individualisme dan kapitalisme seakan menjadi pemenang dalam pertarungan ideologi.
Sementara pada sisi lain kehidupan beragama sangat fundamentalis, bahkan radikal, yang sangat tertutup dari nilai-nilai universal. Kedua kutub ekstrem itu menjadi fenomena yang mewarnai religiusitas masyarakat Indonesia masa kini. Akibatnya, secara fisik ditemukan begitu banyak simbol-simbol keagamaan dalam kehidupan sosial, tetapi jauh dari janji-janji yang memberikan kedamaian batin masyarakat.
Oleh karena itu, ini adalah isu utama yang harus disikapi dengan kebijakan strategis baik oleh pemerintah pusat, daerah maupun seluruh komponen masyarakat (tokoh-tokoh agama). Kebijakan itu harus menempatkan nilai-nilai Pancasila sebagai conditio sine qua non dalam setiap aspek kehidupan.
Pancasila dijadikan sebagai sumber inspirasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan secara konsisten merealisasikan Pancasila sebagai dasar negara, ideologi negara dan pandangan hidup bangsa.
Dengan demikian Pancasila akan mampu menjadi filter atas sebagai pengaruh negatif fenomena modernitas, sekaligus mengisi kembali ruang-ruang kosong kejiwaan manusia indonesia dengan nilai-nilai keagamaan yang universal, seperti cinta kasih, ketulusan, kejujuran, pengabdian dan pelayanan terhadap sesama untuk membangun kembali kehidupan bersama secara damai, harmonis dan sejahtera.
Pancasila merupakan subsistem dari nilai-nilai keagamaan dan bukan counter system. Lima nilai Pancasila merupakan common denominator persoalan-persoalan yang secara faktual dan aktual selalu dihadapi manusia baik sebagai pribadi, warga negara, maupun sebagai bagian masyarakat internasional. (SDS)***