Jalur Rempah Nusantara, Penghela Pengetahuan akan Keleluasaan Dunia

photo author
Tasia Wulandari, Terpantau
- Kamis, 29 September 2022 | 07:25 WIB
Arka Kinari, salah satu kapal yang dulu berlayar di jalur rempah Indonesia. (Dok. Jalur Rempah Kemendikbud)
Arka Kinari, salah satu kapal yang dulu berlayar di jalur rempah Indonesia. (Dok. Jalur Rempah Kemendikbud)

Terpantau.comRempah-rempah bukan sekadar komoditas. Lebih dari itu, rempah-rempah merupakan penghela kehidupan. Rempah-rempah lah yang mendenyutkan nadi ekonomi, sosial, budaya dan politik dalam skala nasional dan global.

Indonesia merupakan salah satu rumah bagi beragam rempah-rempah yang dibutuhkan dunia. Cengkih, pala dan cendana tumbuh subur di pulau-pulau di timur Nusantara. Cengkih (Syzygium aromaticum) adalah tanaman asli (endemik) gugusan kepulauan yang mencakup Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan. Pala (Myristica fragrans) merupakan tanaman endemik Pulau Banda. Cendana (Santalum album) tumbuh di Pulau Rote.

Kamper, kayu manis dan lada dibudidayakan di Pulau Sumatra. Wilayah kepulauan inilah yang kemudian dikenal sebagai "Jalur Rempah Nusantara". 

Jauh sebelum bangsa Eropa berlabuh di Nusantara, Jalur Rempah merupakan rute nenek moyang  menjalin hubungan antarpulau. Rempah-rempah menjadi "cenderamata" yang menandai persahabatan baru, membangun asimilasi dan diplomasi pada setiap persinggahan.

Jalur inilah yang akhirnya menghubungkan Nusantara dan dunia yang lebih luas. Kedatangan penutur bahasa Austronesia ke Nusantara sekitar 4.500 tahun lalu menjadi awal pertukaran rempah-rempah melintas bangsa. Bertahun-tahun sesudahnya, budaya bahari turut melayarkan rempah-rempah hingga ke Asia Selatan dan Afrika Timur.

Kayu gaharu ditemukan di India. Cengkih dan kayu manis dari timur Indonesia sampai di Mesir. Rempah-rempah Nusantara sampai juga di Kerajaan Campa, Kamboja, yang memicu persebaran budaya logam dari Dongson (Vietnam) hingga ke Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.

Dalam buku Spice, The History of a Temptation (2005), sejarawan Australia, Jack Turner menulis, demikian:

Tak satu pun rempah-rempah yang menempuh perjalanan lebih jauh ataupun lebih eksotis daripada cengkih, pala, dan bunga pala Maluku. Setelah panen di hutan pala di Banda atau di bawah bayangan gunung vulkanik Ternate dan Tidore, selanjutnya, kemungkinan besar, rempah-rempah tersebut dinaikkan ke atas cadik yang melintasi pulau-pulau di Nusantara. Bergerak ke barat melewati Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa melalui Selat Malaka, rempah-rempah tersebut lalu dikapalkan menuju India dan pasar rempah di Malabar. Selanjutnya komoditas itu dikirim dengan kapal Arab menyeberangi Samudra Hindia menuju Teluk Persia atau Laut Merah."

Pada segenggam rempah-rempah, manusia berinteraksi. Mereka bertukar pengetahuan, pengalaman dan budaya. Gagasan terungkap antarindividu yang lahir dari pelbagai budaya, hingga melampaui konteks ruang dan waktu. Pada segenggam rempah-rempah, peradaban dunia turut terbentuk dan senantiasa berkembang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Sumber: Jalur Rempah Kemendikbud

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X