10 Matahari Terbit yang Melatari Festival Kue Bulan

photo author
Tim Terpantau 03, Terpantau
- Minggu, 28 Agustus 2022 | 14:10 WIB
Ilustrasi: DIbalik rasanya yang legit, kue bulan ternyata menyimpan legenda sedih yang mendalam. (Marie dari Pixabay)
Ilustrasi: DIbalik rasanya yang legit, kue bulan ternyata menyimpan legenda sedih yang mendalam. (Marie dari Pixabay)

Terpantau.com - Festival kue bulan atau dalam bahasa Mandarin, Zhong Qiu Jie, jatuh pada Sabtu, 10 September 2022. Bagi masyarakat keturunan Tionghoa, festival ini merupakan perayaan terbesar kedua setelah tahun baru Imlek.

Festival kue bulan dirayakan setiap tanggal 15, saat purnama bulan ke-8 pada kalender tradisional China. Perayaan yang dikenal sebagai Festival Pertengahan Musim Gugur ini digunakan untuk berkumpul bersama keluarga dan menikmati kue bulan bersama.

Dalam bahasa Mandarin, kue bulan (moon cake) dikenal dengan nama tiong ciu pia. Tiong berarti tengah, ciu artinya musim gugur, dan pia merujuk pada nama jenis kue yang berbentuk bulan dengan isi di dalamnya.

Selain di China, festival serupa juga dirayakan di Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura dan Vietnam, bahkan Indonesia. Di kalangan etnis Tionghoa di Indonesia, nama ini juga dikenal dengan nama toing ciu pia. Ragam kue ini dapat ditemukan di pasar Mester (Jatinegara) ataupun di kawasan Pasar Glodok, Jakarta.

Festival yang dirayakan sejak 3000 tahun yang lalu ini berlatar belakang suatu legenda pada zaman Dinasti Song (960-1279 Masehi) di China. Konon, terdapat 10 matahari yang terbit di langit sehingga menimbulkan hawa panas. Karena bencana kekeringan dan hawa panas yang luar biasa itu, penduduk lalu mengupayakan pelbagai cara untuk mengakhiri bencana.

Tersebutlah seorang pemanah yang sangat terkenal bernama Hou Yi. Dia  berkelana dan kemudia dengan kemampuannya yang mahir memanah dia rentangkan busur panahnya dan kesembilan matahari yang dipanah itu jatuh. Tinggal tersisa satu matahari di langit.

Penduduk mengelukannya dan Hou Yi pun dianggap sebagai pahlawan. Dia diberi hadiah ramuan hidup abadi oleh seorang yang suci.

Hou Yi seorang suami yang setia dan sayang istrinya yang cantik, bernama Chang’e. Hou Yi tidak mau hidup abadi jika tidak bersama istrinya itu. Maka sesampai di rumah diberikannya ramuan itu kepada istrinya agar disimpan.

Pada suatu hari ketika Hou Yi sedang tidak ada di rumah, seorang yang jahat bernama Peng Meng ingin merampok ramuan abadi itu dari tangan Chang’e. Dengan niatan mau mengamankan ramuan hidup abadi agar tak jatuh ke tangan Peng Meng, Chang’e meminumnya. Ajaib, setelah meminumnya tubuh Chang’e terasa sangat ringan dan secara perlahan ia terbang ke angkasa dan memilih bulan sebagai rumahnya di angkasa.

Sepulang ke rumah, Hou Yi mendapati istrinya sudah tidak ada lagi. Dia sangat sedih dan kemudian dia membuat altar persembahan untuk mengenang istrinya. Yang sudah tinggal di bulan.

Hou Yi meletkaan buah-buahan segar dan makanan kesukaan Chang’e sebagai persembahan. Para tetangga ikut bersimpati akan kejadian yang menimpa Hou Yi dan ikut mengenangnya dengan memakan kue bulan bersama.

Konon, kecantikan Chang'e akan terlihat dari bumi pada waktu bulan dalam keadaan paling penuh dan paling terang (bulan purnama). (SDS)***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Sumber: Wikipedia

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X