fiksi

Novel Penagraf Ivy, 'Cinta yang Tertinggal Di Jantung Pangururan'

Selasa, 15 November 2022 | 15:15 WIB
Novel Penagraf Ivy, 'Cinta yang Tertinggal Di Jantung Pangururan' (Pexels/Engin Akyurt)

Terpantau.com - Mulai hari ini, Terpantau.com akan menampilkan cerita fiksi, novel penagraf atau novel yang terdiri dari cerita pendek lima paragraf.

Berbeda dengan pentigraf yang merupakan cerita pendek tiga paragraf, Novel penagraf tentunya cerita pendek yang terdiri dari lima paragraf.

Novel penagraf yang diunggah kali ini berjudul Ivy. Ivy berkisah tentang percintaan seorang gadis yang hampir patah hati karena ditinggal kekasihnya namun oleh suatu keadaan mereka bertemu lagi dengan berbagai kisah pelik yang membelit mereka.

Stay tune ya. 

Baca Juga: Cerita Novel 'Canting' Refleksi Perjuangan Batik Tulis ditengah Gempuran Batik Printing

Cinta Yang Tertinggal Di Jantung Pangururan

Suara Fariz RM begitu merdu terdengar di telingaku. Lagu Barcelona membuatku terlena dan spiritnya masuk ke dalam jiwa. Sepanjang perjalanan dari bandara Silangit, yang secara resmi sekarang berubah nama menjadi bandara Sisingamangaraja XII ke Pangururan menempuh waktu dua jam empat puluh lima menit itupun tak terasa. Pemandangan sepanjang jalan yang dilalui bus DAMRI yang aku tumpangi benar-benar memanjakan mata. Pada pandangan pertama aku jatuh cinta.

Sebagai Travel Writer, hatiku berbunga-bunga ketika bandara Silangit dibuka untuk melayani penerbangan internasional. Setelah mengumpulkan bekal dan segala rencana dan mitigasi, aku pun berangkatlah. Danau Toba tujuanku. Di tempat destinasi wisata ini, tentu saja akan banyak obyek wisata yang bisa aku kunjungi.

Aku memilih tempat penginapan sesuai dengan kemampuan kantong. Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, ku pilih hotel bintang tiga di Pangururan. Menjelang jam tiga sore aku masuk ke kamarku. Pemandangan menuju senja yang aduhai. Aku tak menyia-nyiakan waktu, aku keluar menuju Menara Doa SInatapan. Menara Doa yang didedikasikan oleh Putra Samosir untuk daerahnya. Menara yang megah, dan warna kuningnya semakin menambah pesonanya.

"Ivy...kamu Ivy bukan?" suara berat seorang lelaki dari arah belakangku. Aku terperangah, mana mungkin pula ada orang yang mengenal aku di tempat sejauh ini. Aku mencari arah suara, dan ya ampun. Dia berdiri dengan gagahnya masih seperti duapuluh tahun yang lalu. Hanya saja, kumisnya tak ada lagi di tempatnya. Seseorang dari masa lalu.

Dia mengantarku pulang ke hotel tempatku menginap. Dan yang terjadi kemudian semakin membuatku shock berat, ketika kami masuk ke ruang resepsionis, Rio si resepsionis menyambut kami dengan hangat dan memanggil DIaz, dengan sapaan penuh hormat : Pak Diaz. Cerita punya cerita, ternyata Diaz-lah sang pemilik penginapan ini.

SDS. 19.4.2020

 

Tags

Terkini