Novel Penagraf Ivy, 'Bunga Meja Yang Meresahkanku'

photo author
Siwi Susilaningsih, Terpantau
- Jumat, 18 November 2022 | 15:15 WIB
Novel Penagraf Ivy, 'Bunga Meja Yang Meresahkanku' / www.pixabay.com
Novel Penagraf Ivy, 'Bunga Meja Yang Meresahkanku' / www.pixabay.com

Terpantau.com - Kembali Terpantau.com menampilkan cerita fiksi, novel penagraf atau novel yang terdiri dari cerita pendek lima paragraf.

Berbeda dengan pentigraf yang merupakan cerita pendek tiga paragraf, Novel penagraf tentunya cerita pendek yang terdiri dari lima paragraf.

Novel penagraf yang diunggah kali ini berjudul Ivy. Ivy berkisah tentang percintaan seorang gadis yang hampir patah hati karena ditinggal kekasihnya namun oleh suatu keadaan mereka bertemu lagi dengan berbagai kisah pelik yang membelit mereka.

Baca Juga: Puisi Cinta Kahlil Gibran, Bisa Untuk Inspirasi Membuat Puisi Buat Gebetan (Part 3)

Bunga Meja Yang Meresahkanku

"Ayo dimakan," bujuk Diaz "tidak aku taburin racun guna-guna, percaya aja," tambahnya dengan mimik wajah yang sedemikian menggemaskanku, hingga sesaat aku merasa Keanu Reeves ada di hadapanku. Sebenarnya aku masih ingin menolak, tapi Diaz makin nekat dengan ancamannya,  akan menyuapiku kalau tak segera mencicipinya. Aku akhirnya menggigit juga potongan pizza itu dan wow rasanya. Andaliman ini tak pernah bohong, lidahku menjadi kelu. Walau dia tak sepedas cabai atau lada, tapi sensasinya sungguh mematikan rasa. Seperti Diaz.

Dia seorang lelaki yang dingin. Sewaktu SMA, teman-temanku iseng bikin turnamen, siapa yang berhasil menakhlukkan hatinya. Sebelum banyak teman perempuanku meributkan Diaz, aku tak punya perhatian sama sekali padanya. Maklumlah, sebagai social butterfly, penggemarku banyak dan mataku tertuju pada seseorang atlit beladiri, yang sayangnya tampan, atletis dan pandai.

Setelah heboh perbincangan tentang Diaz, aku tergiur juga meliriknya. "Hmm...tampan juga. Kumisnya tipis menambah manis dirinya," gumanku. Diaz atletis juga. Lalu aku mulai berusaha menarik perhatiannya. Mungkin sudah takdir, atau entah karena faktor lain, akhirnya aku yang jadi pemenangnya.

Tiba-tiba aku tersedak. Rasa Andaliman ini tersekat di kerongkongan. Diaz menyorongkan tumbler warna biru. Isinya air kelapa dan jeruk yang masih hangat. Tentu saja dia ingat dengan minuman favoritku itu. Dia tak akan menawarkan tuak minuman khas Samosir, karena dia tahu bahkan sejak dulu akupun tidak begitu suka dengan legen, sadapan pohon nira atau kelapa itu. Diaz menuju meja resepsionis dan melambaikan tangannya padaku agar segera bangkit dan menuju ke rumahnya.

"Aku perlu mampir ke tempat tertentu-kah? Untuk membawakan sesuatu untuk anak-anakmu?," tanyaku. Diaz hanya tersenyum. Ketika di belokan pertama, sekira 500 meter dia menepi. Disitu dia mengajakku turun. Sebuah florist. Aku dimintanya untuk memilih bunga meja untuk pemanis jamuan makan siang di rumahnya. Disini aku merasa entah.

SDS. 26.04.2020***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X