Terpantau.com – Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Candi Muaro Jambi merupakan kampus tertua di Indonesia sekaligus terluas di Asia. Selain sebagai objek wisata sejarah, Candi Muaro Jambi juga menawarkan pemandangan yang menenangkan bagi pengunjungnya.
Kompleks Candi Muaro Jambi berada di Provinsi Jambi. Berdiri sejak sekitar abad 7-12 Masehi, kompleksnya terbentang hingga 3.981 hektare, atau delapan kali lebih luas dibanding Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.
Sebegitu luas kompleksnya, hingga mencakup delapan desa di tepi Sungai Batanghari, Kabupaten Muaro Jambi. Jaraknya sekitar 26 kilometer dari pusat Kota Jambi.
Pada masanya, tempat wisata sejarah ini merupakan pusat pendidikan ajaran Hindu dan Buddha. Selain itu, Candi Muaro Jambi dahulu juga dimanfaatkan sebagai tempat mempelajari pelbagai disiplin ilmu. Misalnya obat-obatan, filsafat, arsitektur dan seni.
Catatan Seorang Biksu Pengelana
Keberadaan candi ini mula-mula terbukukan dalam catatan I-Tsing, seorang biksu pengelana asal Cina. Ia singgah ke Muaro Jambi dalam perjalanan menuju Nalanda di India, tempatnya kelak memperdalam ajaran Buddha.
Di Muaro Jambi, I-Tsing turut mempelajari Sanskerta, bahasa kesusastraan Hindu kuno. Ia menyebut Muaro Jambi sebagai bagian dari "Lautan Selatan" yang, menurut peneliti, mencakup Sumatra, Jawa dan Bali.
Menurut interpretasi sejumlah peneliti yang menelusuri catatan I-Tsing, sang biksu berlayar dari Cina pada 671 Masehi. Ia menulis bahwa pada suatu hari sampailah ia di suatu tempat bernama Fo-shi (Kerajaan Sriwijaya). Candi Muaro Jambi, tulis I-Tsing, termasuk dalam wilayah Fo-shi.
I-Tsing kembali ke Muaro Jambi pada sekitar 689 Masehi.
Sebelas Abad Kemudian
Candi Muaro Jambi sudah banyak berubah sejak zaman pengelanaan I-Tsing. Berselisih sebelas abad sejak ketibaannya pertama kali di Fo-shi, kompleks Candi Muaro Jambi kini kerap didatangi wisatawan dari pelbagai wilayah di Indonesia dan mancanegara.
Terkadang sekawanan kambing tampak merumput di sekitar kompleksnya. Sepulang bersekolah, sejumlah anak-anak berseragam sekolah dasar tampak bercengkerama di bawah pohon-pohon tinggi nan rimbun. Angin bertiup sejuk pada bulan-bulan menjelang musim hujan, seolah-olah mengiringi kesyahduan bangunan Candi Muaro Jambi.