• Rabu, 5 Oktober 2022

Candi Barong, Uluran Tangan Dewa Wisnu bagi Petani Tadah Hujan

- Kamis, 22 September 2022 | 09:57 WIB
Candi Barong. (Balai Pelestarian Cagar Budaya DI Yogyakarta)
Candi Barong. (Balai Pelestarian Cagar Budaya DI Yogyakarta)

Terpantau.com - Berdiri di atas perbukitan kapur yang dikelilingi sawah tadah hujan, Candi Barong menampakkan arsitektur peninggalan Hindu yang erat dengan ritual pemujaan terhadap salah satu dewa tertinggi nya: Dewa Wisnu.

Perbukitan berkapur mengakibatkan tanah di sekitar Candi Barong cenderung tandus dan kering. Pada saat yang sama, mayoritas penduduk di sekitar candi ini bermatapencaharian sebagai petani. Itulah mengapa para petani memanfaatkan sistem tadah hujan guna memenuhi kebutuhan akan air selama masa bercocok tanam. 

Sistem bertanam yang semacam ini, menurut keterangan Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, "terkait dengan pola kehidupan masyarakat pada masa pembangunan Candi Barong."

Hidup di tengah-tengah tanah tandus tetapi harus tetap menghasilkan panen, petani tadah hujan secara berkelanjutan memohon restu dari Dewa Wisnu dan Dewi Sri. Dalam mitologi India, Dewa Wisnu merupakan dewa pemelihara dan penyelamat dunia. Salah satu arca Wisnu yang ditemukan di candi ini  duduk dalam sikap paryankasana. Sementara sikap tangannya varamudra, yaitu sikap tangan memberi anugerah. Sedangkan Dewi Sri dianggap sebagai dewi kesuburan. Dalam tatanan masyarakat Jawa, Dewi Sri kerap disebut sebagai Dewi Padi.

"Melalui pemujaan terhadap Dewa Wisnu dan Dewi Sri, masyarakat di sekitar candi berharap memperoleh berkah kesuburan [tanah], sehingga dapat memberikan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat," tulis Balai Pelestarian Cagar Budaya DI Yogyakarta dalam situs resminya.

Secara administratif, cagar budaya yang kerap pula disebut Candi Sari Suragedug ini terletak di Dusun Candisari, Bokoharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.

Candi ini dinamakan Candi Barong karena bangunan utama candi memiliki hiasan kala  dan makara di relung tubuh candi yang tampak seperti Barong.

Ketika ditemukan, candi ini telah runtuh. Pemugaran candi berlangsung selama 5 tahun dari 1987 sampai 1992, dengan menyusun kembali dua candi utama. Ketika pemugaran selesai, dilanjutkan dengan pemugaran talud dan pagar.

Pada waktu pemugaran ditemukan arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri serta arca Ganesha. Juga ditemukan beberapa peripih kotak terbuat dari batu andesit dan batu putih. Dalam salah satu peripih terdapat lembaran-lembaran perak dan emas bertulisan, tetapi tulisan itu sudah tak terbaca. Disamping ditemukan peripih juga ditemukan sejumlah perlengkapan rumah, seperti mangkuk keramik, guci, sendok dan mata panah.

Halaman:

Editor: Tasia Wulandari

Sumber: candi.perpusnas.go.id, Balai Pelestarian Cagar Budaya DI Yogyakarta

Tags

Artikel Terkait

Terkini

11 Teras Pemujaan Tiga Dewa Hindu di Candi Ijo

Rabu, 28 September 2022 | 21:08 WIB

Mulai 11 Oktober, Jepang Bebaskan Visa Bagi Pelancong

Minggu, 25 September 2022 | 08:05 WIB

Candi Banyunibo, Candi Mungil Penuh Relief

Sabtu, 17 September 2022 | 10:10 WIB

Candi Pendem: Tempat Main Dakon?

Sabtu, 10 September 2022 | 15:10 WIB

Rekomendasi Tempat Self Healing di Tanah Air!

Sabtu, 10 September 2022 | 08:00 WIB
X