Candi Barong, Uluran Tangan Dewa Wisnu bagi Petani Tadah Hujan

photo author
Tim Terpantau 03, Terpantau
- Kamis, 22 September 2022 | 09:57 WIB
Candi Barong. (Balai Pelestarian Cagar Budaya DI Yogyakarta)
Candi Barong. (Balai Pelestarian Cagar Budaya DI Yogyakarta)

Terpantau.com - Berdiri di atas perbukitan kapur yang dikelilingi sawah tadah hujan, Candi Barong menampakkan arsitektur peninggalan Hindu yang erat dengan ritual pemujaan terhadap salah satu dewa tertinggi nya: Dewa Wisnu.

Perbukitan berkapur mengakibatkan tanah di sekitar Candi Barong cenderung tandus dan kering. Pada saat yang sama, mayoritas penduduk di sekitar candi ini bermatapencaharian sebagai petani. Itulah mengapa para petani memanfaatkan sistem tadah hujan guna memenuhi kebutuhan akan air selama masa bercocok tanam. 

Sistem bertanam yang semacam ini, menurut keterangan Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, "terkait dengan pola kehidupan masyarakat pada masa pembangunan Candi Barong."

Hidup di tengah-tengah tanah tandus tetapi harus tetap menghasilkan panen, petani tadah hujan secara berkelanjutan memohon restu dari Dewa Wisnu dan Dewi Sri. Dalam mitologi India, Dewa Wisnu merupakan dewa pemelihara dan penyelamat dunia. Salah satu arca Wisnu yang ditemukan di candi ini  duduk dalam sikap paryankasana. Sementara sikap tangannya varamudra, yaitu sikap tangan memberi anugerah. Sedangkan Dewi Sri dianggap sebagai dewi kesuburan. Dalam tatanan masyarakat Jawa, Dewi Sri kerap disebut sebagai Dewi Padi.

"Melalui pemujaan terhadap Dewa Wisnu dan Dewi Sri, masyarakat di sekitar candi berharap memperoleh berkah kesuburan [tanah], sehingga dapat memberikan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat," tulis Balai Pelestarian Cagar Budaya DI Yogyakarta dalam situs resminya.

Secara administratif, cagar budaya yang kerap pula disebut Candi Sari Suragedug ini terletak di Dusun Candisari, Bokoharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.

Candi ini dinamakan Candi Barong karena bangunan utama candi memiliki hiasan kala  dan makara di relung tubuh candi yang tampak seperti Barong.

Ketika ditemukan, candi ini telah runtuh. Pemugaran candi berlangsung selama 5 tahun dari 1987 sampai 1992, dengan menyusun kembali dua candi utama. Ketika pemugaran selesai, dilanjutkan dengan pemugaran talud dan pagar.

Pada waktu pemugaran ditemukan arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri serta arca Ganesha. Juga ditemukan beberapa peripih kotak terbuat dari batu andesit dan batu putih. Dalam salah satu peripih terdapat lembaran-lembaran perak dan emas bertulisan, tetapi tulisan itu sudah tak terbaca. Disamping ditemukan peripih juga ditemukan sejumlah perlengkapan rumah, seperti mangkuk keramik, guci, sendok dan mata panah.

 Keistimewaan Candi Barong terletak pada pemujaan terhadap Wisnu.  Umumnya, candi-candi Jawa Tengah memuja Dewa Syiwa atau bersifat Syiwaistis. Selain itu, struktur berundak  dengan pusat pemujaan terletak paling timur juga tidak umum bagi candi-candi dari masa Medang, yang biasanya bangunan utamanya berada di pusat kompleks. Hanya Candi Ijo yang memiliki karakteristik sama. Struktur berundak ini dianggap sebagai ekspresi asli Indonesia. Corak sinkretik juga tampak dari pemujaan terhadap Dewi Sri.

Jika merujuk pada Prasasti Ratu Baka (856M), candi ini bernama Candi Sari Suragedug dalam bahasa Sansekerta dan ditulis menggunakan huruf Jawa Kuno. Apa yang tertulis di Prasasti Ratu Baka itu mengarah ke Candi Barong. Seterusnya dalam Prasasti Pereng (863) yang juga ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan menggunakan aksara Jawa Kuno, disebutkan pada tahun 784 Saka (860 M) Rakai Walaing Pu Kumbhayoni menganugerahkan sawah dan dua bukit di Tamwahurang untuk keperluan pemeliharaan bangunan suci Syiwa bernama Bhadraloka.

Dalam prasasti ini diceritakan tentang seorang raja yang bernama Sri Kumbaja atau Sri Kalasodbhava yang membangun tiga ‘lingga’ yaitu Krttiwsasalingga dengan pendamping Dewi Sri, Triyarbakalingga dengan Pendamping Dewi Suralaksmi dan haralingga dengan pendamping Dewi Mahalaksmi.

Para ahli berpendapat bahwa Sri Kumbaja atau Sri Kalasodbhava adalah Pu Kumbhayani dan bangunan Syiwa yang dimaksud adalah Candi Barong.

Keunikan Candi Barong ini terletak pada bentuk bangunannya yang beda dengan candi-candi lainnya di Jogja dan Jawa tengah, yaitu berupa bangunan punden berundak, yaitu model bangunan suci pada masa Pra Hindu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Sumber: candi.perpusnas.go.id, Balai Pelestarian Cagar Budaya DI Yogyakarta

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

5 Rekomendasi Tempat Hangout Hits di Jakarta

Jumat, 12 Juli 2024 | 13:12 WIB

8 Destinasi Liburan Sekolah yang Menyenangkan

Rabu, 5 Juni 2024 | 11:02 WIB
X