Terpantau.com – Otoritas yang berkepentingan di Banyuwangi, Jawa Timur pada Jumat malam (5/8) sepakat untuk mempercepat evakuasi terhadap seekor paus sperma (Physeter macrocephalus). Mamalia laut sepanjang 16,5 meter tersebut terdampar hidup sendirian di pesisir Pantai Warudoyong, Banyuwangi pada Senin (1/8). Paus itu mati pada Rabu (3/8), sesudah petugas melakukan pelbagai upaya evakuasi yang terkoordinasi.
"Dalam rapat pada Jumat malam (5/8), kami sepakat untuk mempercepat evakuasi terhadap paus tersebut. Beberapa cara percepatan, termasuk penggunaan gergaji, penambahan alat berat dan petugas," kata Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut untuk wilayah kerja Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Permana Yudiarso. Upaya percepatan diputuskan lantaran kondisi paus yang mulai membusuk.
Sebelumnya pada Rabu-Kamis, tim dokter hewan dari Universitas Airlangga, Surabaya, melakukan nekropsi terhadap paus tersebut. Nekropsi dilakukan guna mengetahui penyebab ia terdampar dan akhirnya mati. Berdasarkan dugaan awal, paus tersebut terdampar hingga ke perairan Banyuwangi lantaran sistem navigasinya mengalami kerusakan. Terdapat berbagai penyebab kerusakan navigasi pada paus. Salah satunya polusi suara bawah laut.
Yudiarso secara khusus mengingatkan semua petugas yang terlibat di lapangan untuk selalu mengenakan alat pelindung diri (APD) sesuai standar operasional penanganan paus terdampar. Pengingat tersebut tak pernah lupa ia serukan supaya semua petugas penanganan terhindar dari potensi zoonosis, penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia.