TERPANTAU - Harga minyak goreng di sejumlah pasar tradisional di pelbagai wilayah Indonesia terus melangit. Di Kendari, Sulawesi Tenggara, harga minyak goreng menembus Rp70 ribu per liter. Angkanya menandai kenaikan tertinggi harga minyak goreng dalam beberapa tahun terakhir.
"Harga [minyak goreng] sudah gila-gilaan. Selain itu, sangat aneh. Selain penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, produk kelapa juga ditemukan di mana-mana di sini, tapi anehnya kok minyak goreng langka?," kata Kiki, 34 tahun, salah seorang ibu rumah tangga di Kendari, Sulawesi tenggara seperti dikutip dari Antara.
Kepada Antara pula, ia mengisahkan bagaimana sekelompok ibu rumah tangga di Kendari merasa kesulitan memperoleh minyak goreng dalam sepekan terakhir. Kalaupun terdapat distributor penjualan minyak goreng, mereka harus antre hingga berjam-jam lamanya. Waktu selama itu dibutuhkan untuk memperoleh 1-2 liter minyak goreng.
Menanggapi kelangkaan minyak goreng, pemerintah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) meminta masyarakat di ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara tersebut agar melapor jika menemukan adanya oknum—dari pihak distributor maupun agen minyak goreng—yang sengaja melakukan penimbunan.
Harga minyak goreng yang melambung juga terjadi di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Harga jual minyak goreng di daerah itu menembus Rp40 ribu per liter.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono beberapa waktu lalu menjelaskan kelangkaan minyak goreng diduga akibat penguatan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan semakin terbatasnya perkebunan sawit. Pada saat yang sama, permintaan akan minyak goreng juga terus meningkat.
Data Gapki menunjukkan pada 2020, produksi CPO turun 0,3 persen dari 47,18 juta ton pada 2019. Pada 2021, produksi CPO Indonesia mencapai 46,88 juta ton. Angka ini berkurang 0,31 persen dari produksi 2020 yang mencapai 47,03 juta ton. Produksi 2022 diprediksi meningkat sebesar 4,52 persen menjadi 49 juta ton.