TERPANTAU, JAKARTA -- Analis ekonomi politik pasar saham, Kusfiardi, menilai pergerakan pasar keuangan global dan domestik sepanjang periode 6–10 April 2026 menunjukkan indikasi awal pergeseran rezim pasar yang signifikan, dari fase geopolitical panic menuju fragile risk-on yang masih sarat risiko.
“Minggu ini bukan sekadar volatilitas biasa. Kita melihat transisi psikologi pasar yang cepat, namun belum didukung oleh perbaikan fundamental likuiditas global. Ini adalah fase awal perubahan rezim pasar, di mana reli menjadi lebih rapuh dan selektif,” ujar Kusfiardi dalam keterangan resminya.
Sepanjang pekan, pasar global mengalami pembalikan arah tajam setelah muncul sinyal de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Indeks saham utama di Wall Street ditutup menguat, mencerminkan kembalinya minat terhadap aset berisiko. Namun, kondisi ini tidak sepenuhnya tercermin di pasar domestik.
Baca Juga: Fundamental Ekonomi RI Tetap Kokoh di Tengah Tekanan Rupiah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya mampu mencatat penguatan terbatas dan ditutup di level 7.307,59, setelah sempat mengalami tekanan signifikan di awal pekan. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah justru mengalami depresiasi hingga menyentuh kisaran Rp17.090 per dolar AS.
Menurut Kusfiardi, ketidaksinkronan ini merupakan sinyal krusial yang sering muncul pada fase awal tekanan struktural di pasar negara berkembang.
“Ketika pasar global menguat tetapi IHSG tertahan dan rupiah melemah, itu bukan anomali. Itu adalah indikasi jelas terjadinya capital outflow dan relative underperformance Indonesia di mata investor global. Ini biasanya menjadi fase awal tekanan yang lebih panjang jika tidak ada perubahan pada faktor eksternal,” jelasnya.
Baca Juga: Kronologi Bus Primajasa Alami Lepas Ban, Hantam Bangunan Apotek
Ia menambahkan bahwa penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat kini menjadi faktor dominan yang membatasi ruang kenaikan pasar.
“Selama dolar AS tetap kuat dan yield global tinggi, likuiditas global akan tetap tersedot ke aset berbasis dolar. Dalam kondisi seperti ini, reli di pasar emerging markets, termasuk Indonesia, cenderung tidak sustain dan rentan berbalik arah,” tegas Kusfiardi.
Lebih lanjut, Kusfiardi menekankan bahwa level Rp17.000 per dolar AS bukan hanya batas psikologis, tetapi berpotensi menandai perubahan rezim risiko nilai tukar Indonesia.
“Rupiah saat ini adalah indikator paling jujur dari persepsi risiko investor. Selama rupiah belum stabil dan masih berada di bawah tekanan, maka reli IHSG harus dipandang dengan sangat hati-hati,” ujarnya.
Baca Juga: Simak, 5 Bukti Pasar Saham RI Kini Makin Transparan
Artikel Terkait
Ibu Ini Curhat Sang Anak Tinggalkan Utang Rp19 Juta Gegara Judi Online
Truk Roti Seruduk Warung Kopi di Terminal Kartasura
Usai Rumah Terduga Narkoba, Kini Tempat Dugem Jadi Sasaran Oknum Warga
Tersangka Kabur, Aliansi Masyarakat Desak Kapolri Ganti Kapolda Jambi
Simak, 5 Bukti Pasar Saham RI Kini Makin Transparan
Deretan Progres Nyata Reformasi Pasar Modal yang Dilakukan Indonesia
Putin Nyatakan Rusia Terbuka Kerja Sama Berbagai Bidang dengan RI
Potensi Denda Rp26 Triliun Menanti jika Skandal Tumpang Pitu Terbongkar
Viral Sidang Dugaan Pelecehan oleh 16 Mahasiswa FH UI Berujung Ricuh
Kronologi Bus Primajasa Alami Lepas Ban, Hantam Bangunan Apotek