TERPANTAU - Inflasi Amerika Serikat (AS) pada Februari tercatat naik hingga level tertinggi dalam 40 tahun. Kenaikan inflasi dipicu penguatan harga bahan bakar minyak, makanan dan perumahan. Fase kenaikan kian cepat, menyusul invasi Rusia ke Ukraina.
Indeks harga konsumen AS melonjak hingga mencapai 7,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan inflasi menyusul penguatan 7,5 persen pada Januari, demikian data terbaru Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (10/3) seperti disitir dari Bloomberg.
Harga makanan di AS tercatat naik 1 persen pada Februari dibanding sebulan sebelumnya—fase tercepat sejak April 2020, demikian data inflasi inti yang diterbitkan Departemen Tenaga Kerja AS. Sepanjang Februari, harga eceran bahan bakar minyak regular-grade naik 19,3 persen menjadi $4,32 per gallon, menurut data American Automobile Association Data. Harga berpeluang kian naik, menyusul larangan impor minyak AS dari Rusia.
Komponen inflasi inti—tanpa menghitung dinamika harga makanan dan energi—naik sebesar 0,5 persen dibanding Januari. Kenaikan sekaligus menandai penguatan 6,4 persen secara year-on-year. Kenaikan inflasi mendorong bank sentral AS atau Federal Reserve guna menyudahi kebijakan suku bunga yang selama dua tahun belakangan ini mendekati nol persen.
Penguatan indeks harga konsumen AS akhirnya turut menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden AS Joseph “Joe” Biden. Jika berlanjut, penurunan tingkat kepercayaan publik diprediksi bakal menyusutkan suara bagi Partai Demokrat dalam pemilihan umum jangka menengah yang digelar November mendatang.