Terpantau.com - Metaverse makin menjadi istilah populer saat ini, sejumlah perusahaan mulai dari Meta hingga Microsoft menggunakannya dalam rencana bisnis mereka. Namun baru-baru ini lembaga investasi besar seperti Morgan Stanley telah menambahkannya ke dalam pembahasan mereka.
Pemain besar di Wall Street itu memberikan proyeksi kepada investor bahwa ruang virtual yang baru muncul di China berpotensi memiliki pasar senilai $8 triliun di masa depan. Penilaian yang mirip dari lembaga investasi Goldman Sachs baru-baru ini memperkirakan metaverse akan bernilai secara global.
Metaverse Tiongkok disebut oleh Morgan Stanley bisa bernilai US$8 triliun, berkat keterlibatan perusahaan Tencent, Alibaba hingga ByteDance.
“Kami berharap TAM metaverse menjadi ekspansif dan melampaui pasar konsumsi online saat ini, yang terutama didominasi oleh belanja e-commerce dan hiburan online,” kata Morgan Stanley seperti dikutip dari situs Blockworks
Sementara itu, perusahaan di Amerika Serikat (AS) seperti induk Facebook (Meta) dan Microsoft menerapkan konsep metaverse, perusahaan Tiongkok mengambil pendekatan yang lebih hati-hati di tengah regulasi yang lebih ketat.
Morgan Stanley menilai bahwa metaverse Tiongkok dapat terlihat sangat berbeda dengan negara-negara lain di dunia karena sensor pemerintah, aturan ketat pada sektor teknologi, dan tindakan keras Beijing terhadap kripto.
Ini kuat relasinya dengan kebijakan Tiongkok tahun lalu, yang melarang penambangan dan transaksi kripto di dalam negeri. Tapi akhirnya justru mendukung pengayaan metaverse dan NFT (non-fungible token), yang punya irisan tipis dengan dunia kripto.
Proyeksi oleh perusahaan Morgan Stanley soal metaverse Tiongkok, mencerminkan seberapa besar investasi dari negara itu di komponen baru bisnis masa depan ini. Sekadar mengingatkan bahwa Tiongkok adalah negara bernilai ekonomi terbesar kedua setelah AS.
Raksasa teknologi Tiongkok mulai berinvestasi di metaverse, dunia realitas virtual, tempat orang beraktivitas selayaknya dunia nyata. Ia bertumpu pada kekuatan game 3 dimensi interaktif, sebagaimana yang tertuang jelas di Decentraland.
Semuanya berawal dari perusahaan Facebook (menjadi Meta sejak akhir Oktober 2021) menggaungkan bahwa metaverse akan jadi tumpuan masa depan Internet. Meta sudah mempersiapkan segalanya, mulai dari platform hingga alatnya, Oculus.
Microsoft dan Apple pun memainkan nada serupa. Bulan lalu Microsoft membeli perusahaan pembuat game besar, Blizzard Activision dengan nilai lebih dari Rp 900 triliun. Bos Microsoft memastikan, bahwa metaverse jadi tumpuan utama pengembangan.***(Heru Gfx)