TERPANTAU - Ketegangan antara Rusia dan Ukraina memperdalam ketidakpastian dalam pasar domestik. Aliran keluar modal asing (capital outflow) dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) pada Maret mencapai Rp30 triliun.
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI, Destry Damayanti mengatakan ketidakpastian global yang meningkat menyebabkan investor memilih mengalihkan dananya ke instrumen yang lebih aman (risk off). Selain puluhan triliun modal SBN yang beralih ke luar negeri, BI juga mencatat capital outflow saham sebesar Rp4 triliun dalam periode yang sama.
Keluarnya aliran modal asing turut menyebabkan peningkatan persepsi risiko atau credit default swap (CDS) sebesar 4 persen. Meski demikian, Destry menegaskan kenaikan level CDS yang terjadi di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara tetangga. Misalnya Thailand, Filipina dan Malaysia.
CDS merupakan indikator yang digunakan untuk mengetahui risiko berinvestasi pada instrumen SBN. Apabila level CDS meningkat, risiko berinvestasi pada instrumen SBN semakin tinggi dan sebaliknya.
Kendati capital outflow cukup deras, Destry dalam konferensi pers pada Kamis (17/3) menyatakan kepemilikan SBN oleh investor domestik kian meningkat. Kenaikan tampak pada kepemilikan dana pensiun dalam instrumen surat utang pemerintah.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, kepemilikan SBN oleh asuransi dan dana pensiun memegang porsi 15,15 atau setara Rp722,32 triliun hingga 14 Maret 2022.