edukasi

Memaknai Kembali Kesaktian Pancasila

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 22:20 WIB
Ilustrasi lambang negara Garuda Pancasila. (Foto: freepik)

Terpantau.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk kesekian kalinya menjadi inspektur upacara Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya Jakarta Timur, Sabtu (1/10/2022).

Lima puluh tujuh tahun sudah terentang jarak waktu dengan peristiwa 30 September-1 Oktober 1965.

Peristiwa yang juga dikenal dengan Gerakan 30 September (G30S) ini kerap dimaknai sebagai salah satu tragedi terkelam dalam sejarah bangsa Indonesia.

Peristiwa yang terjadi pada malam hingga dini hari, antara 30 September hingga 1 Oktober 1965 harus mengorbankan putra-putra terbaik bangsa.

Enam Jenderal, satu perwira pertama TNI, dan seorang personel polisi di Jakarta, serta dua perwira TNI di Yoyakarta menjadi korban peristiwa G30S.

Peristiwa G30S itu kemudian berdampak lebih luas yang diikuti dengan penangkapan serta penghukuman (tidak semua melalui proses hukum di pengadilan) secara masif.

Situasi pasca peristiwa G30S tahun 1965, penangkapan simpatisan Partai Komunis Indonesia oleh pemerintah. (Perpustakaan Nasional RI)

Seluruh anggota serta simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi yang terafiliasi partai tersebut di seluruh wilayah nusantara, dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa G30S.

Mereka yang dituding terlibat kemudian ditahan di berbagai rumah tahanan atau kamp inrehab di berbagai wilayah Indonesia hingga ke Pulau Buru di kepulauan Maluku sebagai tahanan politik atau tapol.

Tak terbilang pula yang harus kehilangan nyawa bahkan tak tentu rimba di mana jasad mereka dikuburkan hingga hari ini.

Tulisan ini tak hendak untuk kembali menelusuri sejarah di balik peristiwa G30S serta kejadian setelahnya atau memperhadapkan pihak-pihak yang berada pada sisi yang berlawanan.

Tak juga ingin menggali lebih dalam siapa dalang ataupun alasan di balik peristiwa 57 tahun silam itu. Biarlah para sejarawan, ilmuwan, baik dalam maupun luar negeri, yang telah menerbitkan berbagai karya tulisan hasil penelitian mereka, menjadi bahan referensi kita untuk melihat kepingan peristiwa sejarah ini secara jernih dan obyektif sehingga terus membuka ruang dialog dari berbagai perspektif.

Sebab sesungguhnya sejarah adalah sesuatu yang dinamis dan selalu terbuka untuk ditulis ulang.

Baik buruknya sejarah bukanlah untuk disembunyikan atau bahkan diagung-agungkan.

Halaman:

Tags

Terkini