Terpantau.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan jajarannya guna memperkuat produksi sorgum di wilayah dengan potensi produktivitas tinggi. Salah satunya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Instruksi merupakan salah satu upaya mengalihkan ketergantungan masyarakat akan beras sebagai bahan pangan pokok.
Di beberapa derah di Indonesia, misalnya Provinsi Jawa Tengah dan NTT, sorgum (Sorghum bicolor sp) telah lama menjadi pilihan bahan pangan pokok di luar beras. Hanya saja, memang, sosialisasi akan fungsi sorgum yang sedemikian itu belum begitu meluas di wilayah lain.
Berasal dari Ethiopia, negara tanduk Benua Afrika, keberadaan sorgum di Indonesia mula-mula tercatat pada sekitar abad ke-8. Penandanya tampak pada relief Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, yang memperlihatkan malai-malai sorgum di antara dua relief manusia dan hewan.
Keberadaan sorgum kembali tercatat pada sekitar tahun 1660. Saat itu datanglah seorang ahli botani asal Jerman, Georg Eberhard Rumphius ke Maluku. Di tanah timur Indonesia, ia secara tekun mempelajari tanaman-tanaman yang tumbuh di sekitar Ambon, kini ibu kota Provinsi Maluku. Tanaman yang dielaborasikan Rumphius, termasuk pula sorgum.
Dalam manuskrip yang ditulis Rumphius sebagai cikal pengetahuan akan tanaman tropis di Indonesia, ia menuliskan bahwa ia "melihat sorgum tumbuh di mana-mana." Secara keseluruhan, Rumphius menulis 12 buku mengenai keberadaan tanaman tropis di Nusantara. Diterbitkan dalam enam volume, buku terakhir botani yang berhasil ditulis Rumphius akhirnya terbit pada 1750.
Rumphius, sang naturalis kelahiran Jerman yang mengalami gangguan pada matanya itu menutup usia pada 1702. Ia memilih Ambon sebagai rumah terakhirnya. Nama Rumphius diabadikan pada suatu museum di Ambon. Mengimbuh nama dari sang ahli botani, perpustakaan tua nan sunyi di belakang Katedral Ambon itu bernama "Rumphius". (SDS)***
Artikel Terkait
Jokowi Berharap Rakyat Tak Lagi Bergantung pada Beras
Rektor IPB: Produktivitas Padi RI Tertinggi Kedua di ASEAN