Terpantau.com - Melanjutkan novel penagraf Ivy ya, menampilkan cerita fiksi, novel penagraf atau novel yang terdiri dari cerita pendek lima paragraf.
Berbeda dengan pentigraf yang merupakan cerita pendek tiga paragraf, Novel penagraf tentunya cerita pendek yang terdiri dari lima paragraf.
Novel penagraf yang diunggah kali ini berjudul Ivy. Ivy berkisah tentang percintaan seorang gadis yang hampir patah hati karena ditinggal kekasihnya namun oleh suatu keadaan mereka bertemu lagi dengan berbagai kisah pelik yang membelit mereka.
Stay tune ya.
Baca Juga: Novel Penagraf Ivy, 'Rindu Dan Cinta Di Sepotong Pizza Andaliman'
Bunga Kamomil Warna Kuning Yang Dipilihnya
Aku tuh masih lugu, bahkan hingga kini. Aku anggap Diaz yang dulu itu sudah berlalu, menjadi Diaz yang sekarang. Seorang suami dan ayah. Masa lalu hanyalah masa lalu, tinggal sejarah. Tapi baginya, sejarah itu sesuatu yang bermakna. Tak bisa dilupakan. Ternyata dia usilnya masih ada, setidaknya kutemui sekarang. Bisa-bisanya aku disuruh memilih bunga meja.
Memilih bunga, bukan hanya sekadar memilih bunga. Ada seninya, karena bunga mempunyai bahasa, dan bunga itu sendiri mewakili perasaan yang ingin diungkapkan sang pembelinya. Diaz pasti tahu itu dan ingin mengujiku. Beruntung sebagai Travel Writer, bahasa bunga adalah salah satu sudut yang selalu kukulik di setiap tulisan yang terbitkan. "Ayolah say, kuterima tantanganmu" aku tersenyum, penuh kepercayaan diri.
Salah satu bunga yang ada dalam pikiranku adalah bunga kekwa. Kekwa ini juga merupakan bunga yang tumbuh subur di dataran Brastagi, suatu daerah berjarak tempuh sekitar 5 jam dari Pangururan. Bunga kekwa kuning yang muncul di film The Curse of Golden Chrysantemum itu sungguh memukauku. Kuambil 3 tangkai, lalu aku menuju barisan ember berisi bunga anyelir dua warna, kuambil juga 3 tangkai dan 5 ikat bunga baby wreath.
Segera aku menuju kasir untuk membayar bunga dan meminta pelayannya untuk membuatkan rangkaian stellwerk. Kupilih rotan sebagai vas-nya. Tiba-tiba saja Diaz, sudah ada di belakangku. Dia mengambil bunga kekwa kuning dari tanganku, sambil mulutnya mengoceh: “Ini bunga berarti cinta yang dipertanyakan.” Dia juga mengambil anyelir dua warna yang kuambil, masih dengan ceracaunya: “Jangan bilang kau tak bisa bersamaku.” Lalu dia meletakkan anyelir warna merah sebanyak 7 tangkai, dan menambahkan satu ikat bunga kamomil. Aku mendelik padanya, menyatakan keberatanku dengan bunga anyelir warna merah, sebanyak tujuh pula. Bukan masalah harga, tapi makna bunga itu, yang artinya aku tak akan pernah melupakanmu. Diaz mengedipkan matanya. Lagi-lagi aku kalah telak. Kerlingan matanya ibarat seringai serigala.
Diaz menepuk bahuku, menenangkanku yang kelihatan mau berulah. Ketika pelayan itu bertanya, mau pakai hiasan daun apa, spontan tanpa diminta kami menjawab serempak: fern. Selesailah sudah bunga meja yang cantik itu, dengan rangkaian dasar bunga baby wreath warna putih, dan tersembul diatasnya tujuh tangkai anyelir merah dan serumpun kamomil. Bunga-bunga mungil yang menenangkanku. Pelayan itu memberikan rangkaian bunga yang sudah jadi berikut struk pembelian dan kartu kredit Diaz. Gerak tangannya cepat juga ini laki, sampai aku tak tahu kapan dia menyerahkan kartunya.
SDS. 26.04.2020***
Artikel Terkait
Novel Penagraf Ivy, 'Cinta yang Tertinggal Di Jantung Pangururan'
Novel Penagraf Ivy, 'Tentang Lembayung Senja Di Pangururan'
Novel Penagraf Ivy, 'Bunga Meja Yang Meresahkanku'