Terpantau.com Dalam rangka ikut memeriahkan Hari Batik Nasional, yuuk kita menyimak tentang novel yang bercerita sedikit banyak tentang Batik.
Novel ini berjudul Canting karya Arswendo Atmowiloto yang terbit pertama kali pada tahun 1986.
Seperti kita ketahu Cantingi adalah carat tembaga untuk membatik namun canting di novel ini juga merupakan nama dari perusahaan batik keluarga Ngabehi Sastrokusuman. Batik canting ini disebut batik Ngabean karena milik Ndoro Ngabehi.
Selain itu Canting (Daryono) juga merupakan nama anak dari Ni (anak Ndoro Ngabehi). Jadi Canting ini merupakan cucu dari pemilik perusahaan Canting ini.
Nah supaya tidak bingung yuk kita simak sinopsisnya.
Novel Canting ini diawali dengan kisah kehamilan Bu Bei istri Pak Bei. Ini merupakan kehamilan anak keenam yang menurut tatatan pada waktu itu sangat tidak lazim. Biasanya para kalangan bangsawan (laki-laki) dia akan punya simpanan jadi sudah tidak menyentuh istri sahnya.
Kehamilan anak keenam ini yang kemudian diberi nama Ni juga menimbulkan pro dan kontra di batin Pak Bei. Dia sendiri tidak yakin kalau ini anaknya. Tapi disisik dapat ingkar karena dalam batinnya juga bergejolak karena secara hati nurani dia tidak bisa mengingkario kalau dia masih berhubungan dengan istrinya.
Untuk menutup rasa gengsi karena diolok-olok koleganya maka Den Bei mengatakan kalau anak itu nanti tumbuh dewasa dan mau mengurusi batik berarti dia anak buruh pabrik (dalam hal ini bukan anaknya).
Celakanya ucapan itu juga yang justru membuat Bu Bei meninggal dunia, ketika Ni berucap dia mau menangani perusahaan batik orang tuanya.
Pada waktu hamil dahulu Bu Bei hanya bisa pasrah dengan nasibnya antara dia dibuang atau tetap menjadi istrinya. Hal itu disebabkan karena derajat mereka pada mulanya yang jauh berbeda.
Diceritakan di novel ini kalau Pak Bei yang nama kecilnya Daryono adalah anak bangsawan. Dia berkulit kuning, tinggi, berhidung sangat mancung. D Kuning, tinggi, berhidung sangat mancung. Dia sangat pintar karena banyak membaca buku, akrab dengan kebudayaan Jawa dan seni. Sangat berwibawa, Punya prinsip. Seorang Pengagum Bung Karno dan Ki Ageng Suryamentaram dan merupakan Bangsawan pertama yang berani Tidak Jawa.
Baca Juga: Sinopsis Film Terbaru Dian Sastrowardoyo Yang Berjudul Gadis Kretek
Ketidak Jawaan Den Bei karena dia berani mempunyai istri dari kebon belakan alias buruh pabrik yang bekerja pada orangtuanya. Istri Den Bei Anak buruh batik yang tinggal di kebon, halaman belakang rumah orangtua Pak Bei. Dengan nama asli Tuginem, menjadi Bu Bei ketika menikah dengan Pak Bei, saat menikah berumur 14 tahun. Bu Bei kuning langsat dengan alis tebal. Bu Bei perempuan sejati. Dia pribadi yang pasrah dengan sepenuh hati. Dia hanya mengenal satu kata mengabdi dengan tulus kepada suaminya.
Di dalam novel diceritakan Bu Bei perempuan perkasa, karena sesungguhnya rumahtangga Pak Bei bisa berdiri tegak karena hidup yang dihidupi Bu Bei. Menjadi juragan Batik setelah kios di Pasar Klewer ditinggalkan tak beroperasi selama dua tahun setelah ibu mertuanya meninggal