Dalam perjalanan perkawinan mereka secara tidak terus terang Den Bei mengakui kalau ekonomi rumahtangganya justru Bu Bei yang berkuasa.
Banyak kejadian yang mengambil alih urusan ekonomi justri Bu Bei misalnya membelikan rumah bagi anak-anaknya di tempat kost, membelikan rumah adik Den bei yang bangkrut dan memberi pesangon pada gundik Pak Bei.
Ketika anak-anak mereka terkena masalah. Bu Bei juga yang menyelesaikannya.
Kemudian pada suatu pesta ulang tahun, Ni anak bungsu yang selengekan itu ditanya kalau dia mau mengurus batik. Mendengar itu Bu bei teringat ucapan Pak Bei dan kemudian shock akhirnya meninggal dunia. Namun alasan medianya Bu bei meninggal karena diabetes.
Sepeninggal Bu Bei perusahaan batik itu gulung tikar sejalan dengan bnertumbuhnya industry batik printing. Canting adalah nyawa bagi buruh-buruh batik, karena di setiap saat terbaik dalam hidupnya, canting ditiup dengan napas dan perasaan.
Tapi batik yang dibuat dengan canting (memerlukan waktu berbulan-bulan) terus kini kalah dengan jenis batik cetak (printing) yang hanya memerlukan waktu beberapa kejap saja.
Nah disini perjuangan Ni dimulai, bahwa melawan dunia yang sakit tidakc cukup hanya dengan mengeluh. “ Menyadari budaya yang sakit adalah tidak dengan menjerit, tidak mengibarkan bendera”
Ni adalah generasi kedua (setelah ayahnya), yang berani tidak Jawa.
Akhirnya perusahaan Canting ini bisa hidup kembali dan Ni menamai anaknya dengan nama Canting Daryono (Daryono nama ayahnya).
Seru ya guys? Sudahkah kalian membaca novelnya.(SDS)***
Artikel Terkait
Yuk, Kenalan Dengan Penulis Novel Gadis Kretek Yang Serialnya Bakal Dimainkan Di Netflix, Ratih Kumala
Istilah Jumlah Seri Terbitan Novel, Mulai Dwilogi hingga Heptalogi
3 Rekomendasi Novel Indonesia Bertema Burung, Wajib Kamu Baca!