Sengkulun, Kue Persembahan Lambang Kesetiaan

photo author
Tim Terpantau 03, Terpantau
- Minggu, 25 September 2022 | 16:30 WIB
Kue sengkulun. (Tangkapan layar dari YouTube/Eddy Siswanto)
Kue sengkulun. (Tangkapan layar dari YouTube/Eddy Siswanto)

Terpantau.com - Kekayaan kuliner Indonesia sangat beragam dan berwarna-warni. Di setiap budaya banyak sekali kekayaan kuliner yang yang khas.

Salah satu kekayaan kuliner yang khas kita kulik kali ini adalah Kue Sengkulun

Asal usul kue Sengkulun diklaim berasal dari berbagai daerah, namun kali ini kita bahas kue Sengkulun dari Betawi.

Keberagaman kuliner di Indonesia dihidupkan karena kekayaan alam yang berlimpah dan pola hidup masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada pengolahan sumber daya alam. Hal itu  berpengaruh kepada penciptaan citra kuliner yang kaya rasa dan nutrisi.  

Dalam kisah rakyat Betawi dikatakan bahwa kue sengkulun lahir pada tahun 1513-1514 yang dipersembahkan dari rakyat Betawi kepada Raja Pakuan. Sejarah kue Sengkulun itu terkait dengan masuknya Portugis dalam wilayah Malaka pada tahun 1511. Ketika itu  masih ada rakyat di wilayah Batavia yang memihak kepada Raja Tanjung Jaya, Raja kerajaan Sunda Padjajaran.

Kerajaan Sunda Pajajaran ini berada di wilayah pelabuhan Sunda Kelapa (sekarang Jayakarta). Sengkulun berasal dari hulun-hulun yang mengabdi kepada kerajaan Sunda Kelapa. Kue Sengkulun mempunyai aroma yang khas. Bauan-bauan atau aroma itu  merupakan simbol kepada keraton Padjajaran. Kue ini merupakan lambang persembahan dan kesetiaan rakyat kepada  keraton (Kulun). Konon kabarnya nama sengkulun secara filosofis diambil dari pemahaman Sang Kulun (keraton).

Kue sengkulun perlu dipopulerkan kembali karena banyak anak muda atau generasi milenial yang tidak mengetahuinya. Padahal kue ini sejak dahulu telah dikenal sebagai kudapan dan merupakan kue persembahan bagi orang-orang yang dituakan atau pembesar pada saat dulu.

Pada waktu lalu, kue  ini memiliki kedudukan yang dipandang tinggi saat dahulu, karena hanya dibuat pada waktu-waktu khusus dan diperuntukan kepada orang-orang yang dihormati atau memiliki kedudukan tinggi dimasyarakat.

Kenyataan ini diperkuat  diperkuat dengan pembuatan kue yang hanya dilakukan pada upacara-upacara besar pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, kue hantaran pernikahan dan lebaran haji. Juga tercatat kue ini dibuat ketika ada acara sedekah bumi atau baritan yang diadakan di Jakarta Timur setiap tahun. Upacara Sedekah Bumi merupakan upacara berterima kasih kepada Dewi Sri yang diadakan di bulan haji sebagai kue persembahan.

Kue yang berbahan dasar ketan ini, yang mengadung unsur melengket atau melekat, menjadi tradisi untuk Idul Fitri dan Idul Adha dimana keberadaan kue ini menjadi simbol untuk saling merekatkan satu sama lain didalam keluarga pada waktu Idul Fitri dan Idul Adha dimana para sanak saudara berkumpul. Kue Sengkulun juga dipakai sebagai kue hantaran ke tetangga  dan saudara untuk memperekat keakraban.

Nah asyik kan guys? Apa kalian sudah pernah mencicipi Kue Sengkulun? (SDS)***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Sumber: Kembidbud.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

5 Manfaat Makan Es Krim di Pagi Hari

Kamis, 1 Agustus 2024 | 09:33 WIB

Lezatnya Tumis Pakcoy Berpadu Jagung Manis

Kamis, 4 Juli 2024 | 11:11 WIB
X