Mau Liburan Anti Maintsream? Kunjungi Suku Baduy Penuh Wisata Edukasi

photo author
- Selasa, 6 Desember 2022 | 14:17 WIB
Suku Baduy (Foto: Gorajuara/Ayobandung.com)
Suku Baduy (Foto: Gorajuara/Ayobandung.com)

Terpantau.com - Akhirnya liburan telah tiba, tapi kamu mau liburan ke tempat yang sangat berbeda. Desa Baduy adalah tempat wisata cocok banged, yang anti mainstream buat kamu yang suka eksplorasi. 

Desa Baduy merupakan salah satu desa di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Di dalamnya terdapat Suku Baduy atau urang Kanekes yang merupakan sekelompok masyarakat yang memegang teguh kearifan lokal. Populasinya kurang lebih 26.000 jiwa dan terbagi menjadi dua wilayah, yaitu Suku Baduy Luar dan Suku Baduy Dalam.

Perbatasan antara kedua wilayah tersebut ditandai dengan sebuah gubuk terbuat dari bambu sebagai tempat menginap suku Baduy Dalam ketika mereka berladang.

Kini, Desa Baduy kerap dikunjungi wisawatan domestik maupun mancanegara. Ada beberapa aturan yang harus ditaati ketika berkunjung ke Baduy. Aturan-aturan tersebut berbeda untuk Baduy Luar, Baduy Dalam, dan perbatasan keduanya.

Baca Juga: 5 Hotel Termurah di Jogja, Harga Bersaing Kualitas Tak Main-Main

Jika kamu seorang yang anti mainstream, liburan akhir tahun ini kamu bisa kunjungi Suku Baduy yang sangat unik ini. Dijamin penuh dengan wisata edukasi.

Meskipun kamu dalam masa liburan akhir tahun, ada beberapa hal yang menjadi pantangan atau tabu bagi Suku Baduy yang perlu kamu jalankan. Salah satunya adalah mengambil foto, terutama di Suku Baduy Dalam.

Baduy Dalam terdiri dari tiga desa, yaitu Cikeusik, Cikertawarna, dan Cibeo. Desa Cibeo lebih terbuka terhadap pendatang. Wisatawan tetap tidak boleh mengambil foto serta dilarang memakai sabun, sampo, odol, dan bahan kimia lainnya saat mandi karena dikhawatirkan akan merusak alam. Sedangkan Desa Cikeusik sangat indah dan asri, tetapi jarang dikunjungi.

Penasaran dengan kearifan lokalnya, masih banyak keunikan suku Baduy, di antaranya:

Gotong Royong

Sifat ini masih dipertahankan oleh Suku Baduy hingga kini. Terutama saat harus pindah ke daerah yang lebih subur karena mereka merupakan suku nomaden dan penganut sistem ladang terbuka. 

Bentuk rumah tidak mencerminkan status sosial

Bentuk rumah yang hampir serupa tanpa memandang status sosial. Yang membedakan hanyalah perabot yang terbuat dari kuningan. Semakin banyak perabot kuningan yang dimiliki, semakin tinggi pula status keluarga.

Baca Juga: Yuk Kenali! Kain Tenun Menawan Kwatek dan Nowing, Warisan Leluhur Masyarakat Adonara NTT

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Suci Andrianti

Sumber: cimahikota.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

5 Rekomendasi Tempat Hangout Hits di Jakarta

Jumat, 12 Juli 2024 | 13:12 WIB

8 Destinasi Liburan Sekolah yang Menyenangkan

Rabu, 5 Juni 2024 | 11:02 WIB
X