Terpantau.com Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali memprediksi pertumbuhan ekonomi Bali pada 2023 masih didorong oleh peningkatan kinerja lapangan usaha yang terkait dengan pariwisata dan sejumlah proyek konstruksi yang dilaksanakan di Pulau Dewata.
"Lapangan usaha yang terkait dengan pariwisata, seperti penyediaan akomodasi dan makan minum, kemudian transportasi, dan perdagangan," kata Kepala KPwBI Provinsi Bali Trisno Nugroho di Denpasar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali pada triwulan III 2022, ekonomi Bali tumbuh sebesar 8,09 % (yoy) atau menguat dari 3,05 % (yoy) pada triwulan sebelumnya.
"Kami optimistis, pada tahun 2022 ini secara keseluruhan ekonomi Bali akan tumbuh pada kisaran 4,60 – 5,40 %," ujarnya.
Baca Juga: Libur Natal dan Tahun Baru, Jakarta-Bali Rute Favorit Wisatawan untuk Liburan
Perbaikan ekonomi terutama ditopang oleh perbaikan kinerja lapangan usaha penyediaan akomodasi makan dan minum, kemudian transportasi, dan perdagangan seiring dengan peningkatan jumlah wisatawan.
"Jadi untuk pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2023, kami proyeksikan tetap akan didorong oleh peningkatan kinerja lapangan usaha yang terkait dengan pariwisata," katanya.
Dalam struktur ekonomi Bali triwulan III-2022, porsi lapangan usaha yang berkaitan langsung dengan pariwisata yaitu akomodasi makan dan minum serta transportasi mencapai 26 %.
Apabila mencakup lapangan usaha lainnya yang mendukung pariwisata, yaitu perdagangan, konstruksi, real estat, jasa perusahaan maka mencapai 52 %.
"Dengan demikian perkembangan jumlah wisatawan yang datang ke Bali akan mempengaruhi kinerja pariwisata dan pertumbuhan ekonomi Bali," katanya.
Baca Juga: Pengguna Tol Bali Mandara Diprediksi Meningkat saat Libur Natal dan Tahun Baru 2023
Meskipun Bali memiliki potensi daya tarik pariwisata yang luar biasa (budaya, alam, laut, akomodasi dan lainnya), namun ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan untuk peningkatan pariwisata.
Pertama, aksesibilitas. Bali dapat dikembangkan sebagai Super Hub Tourism yang mencakup Bali, NTB (Mandalika) dan NTT (Labuan Bajo), baik melalui jalur udara maupun laut.
Kedua, adalah atraksi. Selain wisata alam, pengembangan Bali sebagai medical & wellness tourism (wisata medis dan kebugaran), serta tempat favorit bagi digital nomad sangat besar.
"Ketiga adalah promosi. Meskipun Bali sudah terkenal, namun jumlah wisman Eropa dan Amerika lebih banyak yang datang ke Thailand. Oleh karena itu, kita perlu meningkatkan promosi ke negara-negara yang menjadi kantong wisman," ujarnya.