Benarkah Amerika Serikat (AS) tengah terjerumus dalam resesi? Pertanyaan inilah yang dalam beberapa waktu belakangan mengungkung konsumen, politikus dan investor sedunia. Nah, sebelum terburu-buru menyimpulkan resesi atau tidaknya AS, ada baiknya mengenali dulu seluk-beluk resesi.
Bagaimana kita mendefinisikan resesi?
Bagi banyak pengamat, isyarat tak resmi untuk menyatakan suatu negara tengah terjatuh dalam resesi adalah ketika mengalami kontraksi ekonomi selama dua kuartal berturut-turut. Kontraksi turut ditandai penurunan Produk Domestik Bruto (PDB)—pengukur harga barang-barang dan layanan jasa di suatu negara.
PDB dalam tiga bulan pertama 2022 di AS berkontraksi pada level tahunan sebesar 1,6%. Tiga hari lalu, Departemen Perdagangan AS mengumumkan PDB kembali turun sebesar 0,9% pada kuartal kedua 2022 secara year-on-year.
Jadi, begitu saja?
Tidak juga. Secara resmi, Biro Nasional Penelitian Ekonomi atau National Bureau of Economic Research (NBER)—suatu wadah pemikir ekonomi dan berstatus organisasi nirlaba—memiliki pengukuran yang lebih jauh dan nantinya turut mendefinisikan resesi atau tidaknya Negeri Stars and Stripes.
Tak hanya mengamati PDB, tetapi NBER juga mengukur tingkat tenaga kerja dan pengangguran, pendapatan personal warga, produksi industri serta faktor-faktor lainnya. NBER mendefinisikan resesi sebagai “penurunan signifikan dalam aktivitas ekonomi yang meluas hingga ke berbagai sektor ekonomi dan berlangsung lebih dari beberapa bulan.”
Maka apa jawabannya?
Antara “ya” dan “tidak”. Jika mengacu pada pengukuran NBER: tingkat pengangguran AS pada level 3,6%, mendekati level terendah dalam 50 tahun yang tercatat di negara tersebut. Tingkat upah juga mengalami kenaikan, meski fasenya tak secepat inflasi. Sepanjang paruh pertama 2022, sebanyak 2,7 juta warga AS diterima bekerja.
Namun, pada saat yang sama, tingkat kepercayaan konsumen tengah runtuh. Inflasi membuat mereka bertanya-tanya akan kebijakan yang dikeluarkan Gedung Putih. Tambahkan itu dengan wabah Covid-19 yang tak kunjung berakhir. Disrupsi terjadi di mana-mana. Hal-hal yang dua tahun silam barangkali tak masuk dalam agenda—termasuk resesi—mungkin sekali terjadi.