Terpantau.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada Rabu (17/8/2022) kasus kematian akibat COVID-19 yang dilaporkan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 35 persen selama 4 minggu terakhir.Karenanya WHO memperingatkan faktor risiko akan meningkat ketika cuaca dingin kian dekat.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan dalam seminggu terakhir saja, 15.000 orang meninggal karena COVID-19 secara global, seperti dilansir Global News, pada Kamis (18/8/2022).
Baca Juga: Ibu Negara AS Jill Biden Terpapar Covid-19
Di Kanada, 263 orang meninggal karena COVID-19 terhitung pada Minggu 31 Juli hingga 6 Agustus 2022, sebagaimana dirilis Health Canada.
“Kita semua lelah dengan virus ini dan bosan dengan pandemi. Tetapi virus tidak membuat kita bosan,” ungkap Tedros, dalam konferensi pers Rabu, (17/8/2022).
“Dengan cuaca yang lebih dingin mendekat di belahan bumi utara dan orang-orang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan, risiko penularan yang lebih intens dan rawat inap akan meningkat hanya dalam beberapa bulan mendatang.”
Tingkat rawat inap pasien terinfeksi COVID-19 di Kanada berangsur menuju tren ke arah yang lebih baik, meski ribuan pasien masih tetap dirawat di rumah sakit akibat tertular Covid-19.
Data per 8 Agustus 2022, terdapat 4.905 pasien COVID-19 dirawat di rumah sakit. Jumlah ini sedikit menurun dari 5.094 pasien yang dirawat di rumah sakit sepekan sebelumnya.
Peringatan dari WHO
Jumlah pasien COVID-19 di ICU Kanada dilaporkan turun dari 279 menjadi 264, namun jumlah yang dipasangkan ventilator meningkat menjadi 103 dari 101.
Sejak kampanye vaksinasi dimulai pada 14 Desember 2020, lebih dari 50 persen pasien rawat inap dan kasus kematian termasuk di antara mereka yang tidak divaksinasi.
Baca Juga: Terpapar Covid-19, Joe Biden Kembali Positif Untuk Kedua Kalinya
Meskipun kasus-kasus infeksi Covid-19 di Kanada cenderung ke menuju arah yang lebih baik (terjadi penurunan), Tedros mengatakan gambaran global mengenai COVID-19 di masa depan masih suram.
“Ada banyak pembicaraan tentang belajar hidup dengan virus ini, tetapi kita tidak bisa hidup dengan 15.000 kematian seminggu. Kami tidak bisa hidup dengan meningkatnya rawat inap dan kematian,” katanya.