Terpantau.com - Jelang pelaksanaan pesta demokrasi Indonesia tahun 2024, berbagai geliat manuver politik mulai bermunculan beberapa waktu belakangan.
Media, baik itu media massa maupun media sosial merupakan wadah sekaligus corong untuk melakukan aktivitas politik untuk menyambut pesta demokrasi Indonesia di tahun 2024.
Para pelaku media, jurnalis, hingga konten kreator mulai menyalakan mesin produksinya dalam konteks politik untuk tahun 2024. Untuk itu, semua pihak diimbau untuk memainkan peranannya secara positif.
CEO ProMedia Teknologi Indonesia Agus Sulistriyono mengatakan, secara prinsip wartawan atau jurnalis sejatinya tidak dilarang untuk memiliki pilihan politik.
Meski begitu, profesi sebagai jurnalis harus tetap menjaga prinsip netralitas dan independensi dalam arena politik, khususnya pada pesta demokrasi Indonesia di tahun 2024.
"Wartawan itu tidak dilarang punya pilihan politik, tidak, tetapi tidak boleh dilihat-lihatin," kata Agus Sulistriyono dalam diskusi media bertajuk 'Penguatan Sumber Daya Penyelenggara Pemilu dalam Pelaksanaan Demokrasi 2024' di media center KPU RI, Jakarta Pusat, Jumat (18/11/2022).
Agus Sulistriyono atau akrab dipanggil Sulis, membagikan pengalamannya ketika menjadi pemimpin redaksi di sejumlah media jaringan Kompas Gramedia (KG) beberapa tahun lalu.
Saat itu Sulis meminta jurnalis untuk berhati-hati dalam memposting atau mengunggah apapun di media sosial, demi menjaga integritas serta prinsip netralitas dan independen.
Apapun pilihan politik dari seorang jurnalis, sebaiknya disembunyikan atau tidak diketahui publik sebab tugas profesi sebagai wartawan punya keterikatan dengan kode etik.
"Jangan sampai kelihatan pilihannya, sebenarnya (seorang jurnalis) pasti sudah punya pilihan (politik), tapi sebaiknya diam saja," ujarnya.
Sulis juga mengingatkan bahwa profesi jurnalis harus memiliki integritas yang mendasar, karena faktor ini sangat menentukan dalam bersikap independen dan netralitas.
"Basicnya memang harus integritas wartawan itu sendiri. Kalau wartawan itu niatnya gak baik, itu fakta A bisa jadi B. Jadi ini yang paling penting dari segalanya, niat wartawan itu sendiri," kata dia.
Dalam kesempatan itu Sulis juga memberikan gambaran bagaimana perkembangan industri media ke depan yang cenderung berkoloni atau berkelompok.
Dengan berkelompok dan berkolaborasi, sebuah media mampu memiliki kapital yang bagus, membangun teknologi yang bagus, membayar server yang bagus, hingga berujung monetize bagus.
ProMedia, kata dia, menjalin kolaborasi dengan berbagai media online dari seluruh Indonesia membangun sebuah ekosistem yang lebih rapi.