Merunut Sejarah demi Mendefinisikan Batik, Warisan Takbenda UNESCO

photo author
Tim Terpantau 03, Terpantau
- Sabtu, 1 Oktober 2022 | 11:25 WIB
Presiden Joko Widodo pada peringatan Hari Batik Nasional 2019. (Dok. Sekretariat Kabinet RI)
Presiden Joko Widodo pada peringatan Hari Batik Nasional 2019. (Dok. Sekretariat Kabinet RI)

Terpantau.com - Indonesia memperingati Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober. Peringatan diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat akan pelestarian batik dan, lebih dari itu, para pembatik dan pengusaha batik nya.

Penetapan 2 Oktobder sebagai Hari Batik Nasional bukan tanpa alasan. Pada 2 Oktober 2009, Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO mengukuhkan batik Indonesia dalam daftar Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Takbenda di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Batik dinyatakan sebagai "warisan takbenda", mengacu pada definisi UNESCO yang demikian:

(a) Tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa, sebagai wahana warisan budaya takbenda. (b) Seni Pertunjukan ; (c) Ritual Praktik Sosial dan acara Hari Raya; (d) Pengetahuan dan praktik tentang alam dan alam semesta; (e) Kerajinan tradisional”.

Bagaimana dengan Indonesia? Sudahkah definisi batik melegakan semua pihak yang berkecimpung dalam usahanya?

Menurut Evie C. Rahardjo, salah seorang pengusaha batik “Mungkin masih banyak orang yang belum mengenal batik dengan benar. Ada yang masih menyebut kain sasirangan, kain jumputan, tekstil bermotif sebagai batik. Ini yang perlu diluruskan dan menjadi tanggung jawab bersama. Inilah yang saya perjuangkan, fokus hanya melayani batik handmade(cap, cap kombinasi tulis, dan full tulis)”

Kosakata batik dan ambatik berasal dari bahasa Jawa ngoko. Batik sebagai kata benda, dan ambatik sebagai kata kerja. Sedangkan dalam bahasa Jawa kromo batik artinya serat yang berarti tulisan dan ambatik artinya nyerat yang berarti menulis.

Batik adalah teknik menghias kain dengan perintang warna, dengan cara menggoreskan motif atau coraknya dengan menggunakan canting. Teknik batik dengan cap dari metal juga diakui sebagai teknik batik dan alatnya disebut canting cap.

Menggunakan canting, sejumlah perempuan membuat batik tulis di Pulau Jawa pada 1996.
Menggunakan canting, sejumlah perempuan membuat batik tulis di Pulau Jawa pada 1996. (Ian Alexander/Wikimedia Commons)

Secara bahasa, batik berasal dari kata mbat yang berarti melempar berkali-kali dan tik yang berarti titik. Secara istilah, seni batik adalah teknik menggambar di atas kain dengan memanfaatkan lilin dan canting sebagai alat dan bahan pembuatannya. Dibawah ini adalah pengertian batik menurut beberapa tokoh seperti dilansir dari yoursay.suara.com:

  1. Nusjirwan TirtamidjajaBatik adalah teknik menghias kain dengan menggunakan lilin melalui proses pencelupan warna dan seluruh prosesnya menggunakan tangan.
  2. Santoso DoellahBatik adalah sehelai kain yang dibuat dengan cara tradisional dengan corak dan pola hias tertentu. Tekniknya cukup beragam, sesuai dengan asal batik tersebut.
  3. Iwan TirtaSeni batik adalah menghias kain atau tekstil menggunakan lilin, dengan metode pencelupan warna. Semua dilakukan dengan bantuan tangan, bukan mesin sebagaimana batik modern.
  4. Alif SyakurSeni batik adalah sebentang warna yang meliputi berbagai proses, dari proses pemalaman, pencelupan, hingga pelarutan pada kain. Hasilnya adalah motif yang halus, berseni, dan detail lukis tinggi.

Sejarah Batik Indonesia terkait erat dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada zaman Kesultanan Mataram, lalu berlanjut pada zaman Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Kesenian batik paling tua ditemukan di abad ke-17 masehi dan 18 masehi pada masa kerajaan Majapahit. Saat itu batik hanya digunakan oleh orang-orang keraton dan pengikutnya. Namun, lambat laun seni batik juga disebarkan di luar keraton dan menjadi pakaian yang juga dikenakan oleh masyarakat umum.

Keberadaan kegiatan Batik tertua berasal dari Ponorogo yang masih bernama Wengker sebelum abad ke 7, Kerajaan di Jawa Tengah belajar batik dari Ponorogo. Karena itu, batik-batik Ponorogo agak mirip dengan batik yang beredar di Jawa Tengah, hanya saja batik Ponorogo batik yang dihasilkan rata-rata berwarna hitam pekat atau biasa disebut batik irengan karena yang dekat dengan unsur-unsur magis. sehinggga dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah.

Eksistensi Batik Ponorogo hingga abad 20 merupakan surga bagi para pembatik, karena produksi batik di Ponorogo melampaui industri batik di Jawa Tengah maupun Yogyakarta yang kemudian diambil oleh pengepul batik dari Surakrta dan Pekalongan, selain itu upah pembatik di Ponorogo tertinggi di Pulau Jawa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Sumber: UNESCO, Kemendikbud, Jalur Rempah Kemendikbud

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X