Ini Dampak MBG bagi UMKM dan Penyerapan Tenaga Kerja

photo author
Redaksi Terpantau, Terpantau
- Senin, 16 Februari 2026 | 06:36 WIB
Potret menu MBG Rendang Istimewa yang disajikan oleh SPPG Tanah Sirah Piai Nan XX (Dok. SPPG Tanah Sirah Piai Nan XX.)
Potret menu MBG Rendang Istimewa yang disajikan oleh SPPG Tanah Sirah Piai Nan XX (Dok. SPPG Tanah Sirah Piai Nan XX.)

 

TERPANTAU, JAMBI -- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak lagi sekadar kebijakan sosial, melainkan telah berkembang menjadi suplemen ekonomi riil yang bekerja hampir merata di seluruh wilayah Indonesia.

Hal itu disampaikan pengamat ekonomi Noviardi Ferzi yang menilai MBG berhasil membangun ekosistem permintaan domestik berbasis komunitas, mulai dari petani, UMKM, koperasi hingga BUMDes.

Menurut Noviardi, hingga awal 2026 rantai pasok MBG telah melibatkan sekitar 61.857 supplier, terdiri dari 18.614 UMKM, 7.098 koperasi, dan 806 BUMDes, dengan potensi serapan mencapai 2,25 juta tenaga kerja.

Baca Juga: Mau Mudik Lebaran Naik Bus Tapi Motor Ikut Sampai Kampung? Ini Caranya

Skema operasionalnya pun dirancang inklusif karena setiap SPPG diwajibkan menggandeng minimal 15 pemasok lokal, sehingga belanja negara benar-benar jatuh langsung ke ekonomi daerah.

“Ini yang membuat MBG berbeda. Negara tidak hanya membiayai konsumsi, tapi menciptakan pasar tetap bagi pelaku usaha kecil. Dampaknya langsung terasa di desa maupun kota,” ujar Noviardi, di Jambi, 16 Februari 2026.

Ia mencontohkan, sepanjang 2025 realisasi kemitraan MBG telah mencapai Rp283,7 miliar dengan melibatkan 3.060 UMKM aktif. 

Di tingkat hulu, omzet harian petani yang sebelumnya rata-rata sekitar Rp100 ribu melonjak menjadi Rp700 ribu per hari, sementara kapasitas produksi UMKM pangan meningkat hingga dua kali lipat karena adanya kontrak rutin dari dapur MBG. 

Baca Juga: Pengamat: Program MBG Gerakkan Ekonomi Lokal dan Persempit Ketimpangan

Pola ini, kata dia, menciptakan kepastian arus kas dan mengurangi kerentanan usaha mikro terhadap fluktuasi pasar.

Dari sisi makro, Noviardi mencatat pertumbuhan ekonomi nasional 2025 yang mencapai 5,11 persen (yoy) dengan PDB ADHK sekitar Rp13.580,5 triliun tidak terlepas dari penguatan konsumsi rumah tangga yang tumbuh 2,62 persen.

Dalam konteks tersebut, MBG diperkirakan memberi tambahan kontribusi sekitar 0,15–0,20 persen terhadap pertumbuhan ekonomi melalui kanal konsumsi dan aktivitas sektor riil.

Lebih jauh, dengan anggaran sekitar Rp300 triliun, efek berganda (multiplier effect) MBG diproyeksikan bisa menembus Rp900 triliun. 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi Terpantau

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Harga Minyak Melejit, APBN 2026 Terancam Jebol

Senin, 30 Maret 2026 | 11:38 WIB
X