TERPANTAU, JAMBI -- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak lagi sekadar kebijakan sosial, melainkan telah berkembang menjadi suplemen ekonomi riil yang bekerja hampir merata di seluruh wilayah Indonesia.
Hal itu disampaikan pengamat ekonomi Noviardi Ferzi yang menilai MBG berhasil membangun ekosistem permintaan domestik berbasis komunitas, mulai dari petani, UMKM, koperasi hingga BUMDes.
Menurut Noviardi, hingga awal 2026 rantai pasok MBG telah melibatkan sekitar 61.857 supplier, terdiri dari 18.614 UMKM, 7.098 koperasi, dan 806 BUMDes, dengan potensi serapan mencapai 2,25 juta tenaga kerja.
Baca Juga: Mau Mudik Lebaran Naik Bus Tapi Motor Ikut Sampai Kampung? Ini Caranya
Skema operasionalnya pun dirancang inklusif karena setiap SPPG diwajibkan menggandeng minimal 15 pemasok lokal, sehingga belanja negara benar-benar jatuh langsung ke ekonomi daerah.
“Ini yang membuat MBG berbeda. Negara tidak hanya membiayai konsumsi, tapi menciptakan pasar tetap bagi pelaku usaha kecil. Dampaknya langsung terasa di desa maupun kota,” ujar Noviardi, di Jambi, 16 Februari 2026.
Ia mencontohkan, sepanjang 2025 realisasi kemitraan MBG telah mencapai Rp283,7 miliar dengan melibatkan 3.060 UMKM aktif.
Di tingkat hulu, omzet harian petani yang sebelumnya rata-rata sekitar Rp100 ribu melonjak menjadi Rp700 ribu per hari, sementara kapasitas produksi UMKM pangan meningkat hingga dua kali lipat karena adanya kontrak rutin dari dapur MBG.
Baca Juga: Pengamat: Program MBG Gerakkan Ekonomi Lokal dan Persempit Ketimpangan
Pola ini, kata dia, menciptakan kepastian arus kas dan mengurangi kerentanan usaha mikro terhadap fluktuasi pasar.
Dari sisi makro, Noviardi mencatat pertumbuhan ekonomi nasional 2025 yang mencapai 5,11 persen (yoy) dengan PDB ADHK sekitar Rp13.580,5 triliun tidak terlepas dari penguatan konsumsi rumah tangga yang tumbuh 2,62 persen.
Dalam konteks tersebut, MBG diperkirakan memberi tambahan kontribusi sekitar 0,15–0,20 persen terhadap pertumbuhan ekonomi melalui kanal konsumsi dan aktivitas sektor riil.
Lebih jauh, dengan anggaran sekitar Rp300 triliun, efek berganda (multiplier effect) MBG diproyeksikan bisa menembus Rp900 triliun.
Artikel Terkait
Mau Mudik Lebaran Naik Bus Tapi Motor Ikut Sampai Kampung? Ini Caranya
Deretan Mobil Suzuki yang Paling Dicari Pengunjung Selama 7 Hari IIMS 2026
Konsistensi Latihan Antar Tim Voli, SMPN 11 Malang Raih Prestasi
Gegara Delay 5 Jam, Penumpang Super Air Jet Ngaku Rugi Waktu hingga Agenda Tertunda
Suami Nekat Belah Rumahnya Gegara Istri Pindah ke Lain Hati
Papan dari Daur Ulang Plastik Bikin Takjub dan Terlihat Estetik
Jelang Ramadan 2026, Hiswana Migas Jambi Ingatkan Agen soal HET LPG 3 Kg
Sambut Ramadan 1447 H, Pemuda Pancasila Muaro Jambi Perkuat Kepedulian Sosial
Sesepuh Desa Purbalingga Ikut Turun Bangun Jalan Baru hingga Bikin Salut
Siswa SD Ini Sabet Juara Olimpiade Sains Internasional hingga Diundang NASA