Ia juga menyoroti kebijakan pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang dinilai dapat membantu memperkuat stabilitas nilai tukar.
Dengan mewajibkan sebagian hasil ekspor sumber daya alam disimpan lebih lama di dalam negeri, likuiditas dolar di sistem keuangan domestik berpotensi meningkat signifikan.
“Logikanya sederhana. Kalau selama ini devisa ekspor cepat keluar lagi ke luar negeri, pasar valas domestik menjadi tipis. Kebijakan DHE ini seperti membangun bendungan valas agar aliran dolar lebih lama berada di dalam negeri,” ujarnya.
Baca Juga: Analis Prediksi Harga BBM RI Naik jika Perang AS–Iran Terus Berlanjut
Ke depan, David menilai stabilitas rupiah sangat bergantung pada konsistensi kebijakan ekonomi.
Ia menekankan pentingnya menjaga kredibilitas koordinasi kebijakan makro antara pemerintah dan bank sentral, memperdalam pasar valuta asing domestik, menjaga disiplin fiskal, serta memperkuat arus devisa dari ekspor dan investasi.
“Dalam situasi global yang sangat volatil seperti sekarang, stabilitas rupiah pada akhirnya bukan hanya soal supply dan demand dolar, tetapi juga soal kepercayaan pasar terhadap konsistensi kebijakan ekonomi kita,” pungkas David.
Artikel Terkait
Fitch Kirim Alarm Fiskal, Pakar: Ekonomi RI Kuat
Waspada Rebound IHSG, Fenomena 'Dead Cat Bounce' Menjebak Investor
Keberhasilan Prabowonomics Tergantung Pada Disiplin Fiskal dan Eksekusi
Analis Kritik Respons Pemerintah soal Krisis Selat Hormuz
Analis Prediksi Harga BBM RI Naik jika Perang AS–Iran Terus Berlanjut
Gejolak Global, Pakar Ingatkan RI Perkuat Ketahanan Ekonomi
IHSG Terjepit, Analis: Koreksi Saat Ini Buka Peluang
Ekonom Usul Pemerintah Batalkan Perjanjian Dagang RI-AS
Harga Minyak Dunia Melejit, Ekonom Ingatkan Tekanan Fiskal
Dekati Rekor Terlemah, Pakar: Rupiah Tertekan Arus Global