Karena itu, ia menekankan bahwa strategi yang lebih logis adalah memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan produksi dalam negeri dan pengelolaan impor.
Baca Juga: Ekonom: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Berpotensi Capai 5,5 Persen
“Solusinya jelas berbasis data lifting harus ditingkatkan, impor harus didiversifikasi, dan subsidi harus lebih tepat sasaran. Ini tiga pilar utama yang langsung menyasar akar masalah,” katanya.
Ia menambahkan dalam situasi global yang tidak stabil, prioritas utama pemerintah adalah menjaga ketersediaan energi dengan biaya yang terkendali, bukan sekadar memindahkan beban dari negara ke masyarakat.
“Kalau kebijakan tidak berbasis struktur masalah, kita hanya memindahkan tekanan, bukan menyelesaikan krisis. Momentum ini harus dipakai untuk memperkuat ketahanan energi nasional,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Defisit APBN Meningkat, Pakar: Strategi Jaga Ekonomi Domestik
APBN Masih Terjaga di Tengah Memanasnya Timur Tengah
Ekonom: Pertumbuhan Penerimaan Pajak Cerminkan Perbaikan Ekonomi
Eskalasi Selat Hormuz dan Outlook Negatif Fitch Picu Koreksi Terburuk di Awal 2026
Pengamat: Ekonomi Indonesia Tidak Memburuk, Tapi Tertekan di Level Mikro
Pengamat : Universal Banking Bisa Jadi Lompatan Besar Perbankan Indonesia
Ekonomi Pasca Lebaran, Ekonom Sorot Risiko Inflasi dan Rupiah
Ekonom: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Berpotensi Capai 5,5 Persen
Pengamat: Target Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Realistis
Gairah Ekonomi Lebaran 2026: Uang Tunai yang Beredar Tembus Rp1.370 Triliun