Ia menekankan bahwa arah rupiah akan menjadi faktor penentu utama dalam jangka pendek. Selama nilai tukar masih berada di bawah tekanan dan dolar AS tetap kuat, ruang kenaikan IHSG diperkirakan akan terbatas.
Di sisi lain, potensi aksi ambil untung pada awal pekan juga dapat menambah tekanan terhadap indeks, terutama setelah reli yang bersifat teknikal.
Kusfiardi menambahkan bahwa pola pergerakan pasar akan semakin selektif, dengan sektor berbasis komoditas dan emiten berpendapatan dolar AS relatif lebih bertahan. Sebaliknya, sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan likuiditas diperkirakan tetap tertekan.
Dalam situasi ini, investor disarankan untuk bersikap defensif, memanfaatkan kenaikan untuk profit taking, serta menunggu koreksi sebagai momentum masuk yang lebih ideal.
Kecenderungan investor akan mengedepankan pendekatan taktis dalam jangka pendek.
Baca Juga: BRI Regional Office Palembang Tancap Gas, Ribuan UMKM Nikmati KUR Rp2,34 T
“Setiap kenaikan akan dimanfaatkan untuk profit taking dan penataan ulang portofolio. Fokus eksposur pada sektor yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah dan menghindari sektor yang sensitif terhadap tekanan likuiditas global,” ujarnya.
“Ini adalah fase pasar yang menuntut disiplin dan selektivitas tinggi. Bukan waktu untuk agresif, tetapi untuk bertahan, menjaga likuiditas, dan membaca arah arus modal global dengan cermat,” tutup Kusfiardi, Senin 13 April 2026.
Perlu diketahui Kusfiardi adalah analis ekonomi politik pasar saham yang berfokus pada interaksi antara dinamika global, kebijakan ekonomi, dan pergerakan pasar keuangan domestik.