Kondisi ini juga mempersempit ruang kebijakan moneter domestik dan menempatkan otoritas pada posisi dilematis antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi sektoral, Kusfiardi menilai pasar mulai memasuki fase selektif, di mana tidak semua sektor bergerak searah.
“Saham berbasis komoditas energi dan emiten dengan pendapatan dolar AS cenderung menjadi natural hedge dalam kondisi ini. Sebaliknya, sektor perbankan besar dan emiten dengan eksposur utang valuta asing atau ketergantungan impor akan menghadapi tekanan berlapis, baik dari sisi margin maupun valuasi,” paparnya.
Baca Juga: Ibu Ini Curhat Sang Anak Tinggalkan Utang Rp19 Juta Gegara Judi Online
Di tengah dinamika tersebut, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang direvisi turun menjadi 4,7 persen turut menambah lapisan risiko terhadap prospek pasar saham domestik.
“Revisi ini memperkuat narasi bahwa tekanan eksternal mulai merembes ke fundamental domestik, baik melalui inflasi, daya beli, maupun ekspektasi pertumbuhan laba korporasi,” kata Kusfiardi.
Ia menegaskan bahwa pasar saat ini tidak lagi bergerak dalam rezim broad-based rally, melainkan telah memasuki fase stock picker’s market.
“Pasar tidak lagi naik bersama-sama. Investor harus semakin selektif karena pergerakan akan sangat ditentukan oleh sensitivitas masing-masing sektor terhadap suku bunga, nilai tukar, dan harga komoditas,” ujarnya.
Baca Juga: Deretan Progres Nyata Reformasi Pasar Modal yang Dilakukan Indonesia
Kusfiardi menyimpulkan bahwa penguatan IHSG di akhir pekan lebih mencerminkan relief rally ketimbang perubahan tren yang solid.
“Reli yang terjadi saat ini lebih didorong oleh sentimen jangka pendek, bukan oleh perbaikan fundamental. Dalam konteks ini, risiko bear market rally sangat tinggi—yakni kondisi di mana pasar naik cepat namun tidak bertahan lama dan rentan terkoreksi kembali,” jelasnya.
Kelanjutan dari dinamika tersebut, Kusfiardi memproyeksikan bahwa pergerakan IHSG dalam sepekan ke depan cenderung berada dalam fase konsolidasi dengan bias melemah. Penguatan di akhir pekan lalu dinilai belum memiliki fondasi yang kuat karena belum didukung oleh arus masuk dana asing maupun stabilisasi nilai tukar rupiah.
Dalam kondisi ini, pasar berpotensi bergerak terbatas (range-bound) dengan volatilitas yang tetap tinggi.
Baca Juga: Ibu Ini Curhat Sang Anak Tinggalkan Utang Rp19 Juta Gegara Judi Online
Artikel Terkait
Ibu Ini Curhat Sang Anak Tinggalkan Utang Rp19 Juta Gegara Judi Online
Truk Roti Seruduk Warung Kopi di Terminal Kartasura
Usai Rumah Terduga Narkoba, Kini Tempat Dugem Jadi Sasaran Oknum Warga
Tersangka Kabur, Aliansi Masyarakat Desak Kapolri Ganti Kapolda Jambi
Simak, 5 Bukti Pasar Saham RI Kini Makin Transparan
Deretan Progres Nyata Reformasi Pasar Modal yang Dilakukan Indonesia
Putin Nyatakan Rusia Terbuka Kerja Sama Berbagai Bidang dengan RI
Potensi Denda Rp26 Triliun Menanti jika Skandal Tumpang Pitu Terbongkar
Viral Sidang Dugaan Pelecehan oleh 16 Mahasiswa FH UI Berujung Ricuh
Kronologi Bus Primajasa Alami Lepas Ban, Hantam Bangunan Apotek