Terpantau.com - Novel Pentigraf Eve, Novel Siwi Susilaningsih Bagian 5 Persemaian Hati Tuaian Jiwa, dengan tokoh Eve, Erwin dan Ryan. Novel pentigraf ini, disajikan satu pentigraf atau cerita pendek tiga paragraf yang berkesinambungan dengan pentigraf berikutnya.
Novel pentigraf novel Siwi Susilaningsih, berkisah tentang kisah cinta antara seorang perempuan unmarried, Eve beranak satu yang ditinggal suaminya karena hilang dalam satu kerusuhan politik. Pada saat mencari kejelasan tentang suaminya, ia bertemu dengan dua lelaki yaitu Erwin dan Ryan.
Kisah cinta antara Eve dan kedua lelaki tadi yaitu Erwin dan Ryan sangat unik. Disajikan dalam novel pentigraf, novel Siwi Susilaningsih ini serasa segar dan aktual. Bagaimana cerita yang terjalin sungguh memberikan warna baru bagi pembaca.
Baca Juga: Momen Epic Ganjar Kendarai Motor Bobber di Tengah Hujan, Diikuti Konvoi Ratusan Warga Bandung
Eve bekerja di bidang yang berhubungan dengan parfum sesuai jurusan yang diambilnya sewaktu kuliah.
Erwin seorang akuntan publik, teman SMA suami Eve yang hilang.
Ryan, seorang artis atau seniman patung dan seni instalasi yang lain.
Stay Tune!
Bagian 5. Persemaian Hati Tuaian Jiwa.
Baca Juga: Seribu Orang Main Angklung di Hajatan Rakyat, Persembahan Khusus untuk Megawati dan Ganjar Bandung
Episode 141. Ragu yang Menggebu Rindu yang Merayu.
“Ini jampi-jampi yang diberikan oleh Erwin,” kataku sambil menunjukkan teh yang kubawa. Melania terbelalak. Lalu seperti pradugaku yang semula terhadap Erwin, Melania juga bertanya berapa banyak jenis teh yang dimiliki Erwin? Wah, Erwin jangan-jangan Casanova nih, begitu kata Melania. Aku tertawa walau agak miris juga yang kurasa dalam hati. Karena aku sebelumnya juga punya pemikiran semacam itu. Apa yang dikatakan Melania sungguh masuk akal, bagaimana mungkin selama ini Erwin sebagai makhluk yang eligible tidak banyak yang mengincar atau sebaliknya, dia mengincar perempuan lain.
Baca Juga: Bikin Kejutan di Hajatan Rakyat Bandung, Kaka Slank Ajak Megawati Joget
“Jadi kamu menyarankan aku menghindar dari Erwin?” Aku bertanya pada Melania. Dia malahan tertawa. Wah ini perempuan kayaknya agak geser. Tadi dia menuduh Erwin, ketika aku mau memihak dia, dia tertawa. Sungguh random dan absurd banget temanku yang satu itu. Tawa Melania berhenti ketika kemudian dia menepuk-nepuk pundakku.