Sambut Imlek Dengan Penagraf Bertema Lasem, 'Lelaki Dari Pantai Utara' Paragraf 1 dan 2 (Part 1)

photo author
Siwi Susilaningsih, Terpantau
- Senin, 9 Januari 2023 | 21:55 WIB
Sambut Imlek Dengan Penagraf Bertema Lasem, 'Lelaki Dari Pantai Utara' Paragraf 1 dan 2 (Part 1) (NoName_13 Pixabay)
Sambut Imlek Dengan Penagraf Bertema Lasem, 'Lelaki Dari Pantai Utara' Paragraf 1 dan 2 (Part 1) (NoName_13 Pixabay)

Terpantau.com- Penagraf adalah cerita pendek lima paragraf. Lasem adalah sebuah daerah di Pantai Utara yang terkenal dengan batiknya dan banyak hal lainnya.

Berbeda dengan pentigraf yang merupakan cerita pendek tiga paragraf, penagraf Lasem adalah  cerita pendek lima paragraf yang berkisah tentang Lasem.

Lasem mempunyai banyak kisah dari sejarah, seni, agama dan sebagainya. Cerita pendek lima paragraf mencoba menuangkan keistimewaan Lasem dalam satu penagraf Lelaki Pantai Utara.

Baca Juga: Wow! Bantul KaTa, Keistimewaan 2 Sentra Industri Batik Disana, Kunjungi Yuuk!

LELAKI PANTAI UTARA

Akhirnya, bus yang membawaku sampai juga. Terminal bus Lasem tidak terlalu ramai, mungkin karena aku datang bukan bersamaan dengan hari-hari yang padat pendatang, pemudik ataupun pelancong. Peta yang aku beli dari salah satu toko buku ternama itu banyak membantu. Bergegas aku turun dan mencari angkutan umum, menuju kawasan Pecinan. Lasem, daerah perdikan dari kekuasaan Majapahit yang diberikan kepada Bhre Lasem atau Dewi Indu itu sungguh eksotis. Aku jadi membayangkan bagaimana eksotisnya lelaki pantai. Daerah di pesisir Rembang ini tentunya dihuni oleh banyak lelaki-lelaki nan sexy. Aku membayangkan kawasan itu tak jauh dengan beda dengan suasana kawasan tempat aku tinggal, dimana banyak bangunan tua. Rumah-rumah bertembok tinggi dan berkawat duri serta tertutup. Dan yang paling kuat dalam ingatanku adalah pintu-pintu yang tersembunyi di samping atau di belakang rumah, yang melekat di tembok kokoh itu. Pintu tersembunyi yang berpayung kamuflase dengan sedikit peneduh. Hari sudah mulai sore, entah mungkin perasaanku saja, entah memang nyata adanya. Hawa air laut tercium olehku.

Baca Juga: Alasan Magis Mengapa Bunga Sedap Malam Laris Manis Saat Imlek, Ternyata Bukan Seperti Disangka Selama Ini

“Selamat datang di Soditan” ada suara yang kudengar. Suara bariton yang penuh kehangatan. Aku menoleh mencari suaranya. Disana, berdiri gagah seorang laki-laki. Kulitnya kuning langsat. Mata yang sipit. Berperawakan tinggi dengan rambut lurus. Poninya jatuh ke samping keningnya. Aku memandangnya. Aku sudah sempat GR tadinya. Di depan laki-laki tadi, yang kukira berumur sekitar 26 – 30an tahun itu berdiri banyak pemuda pemudi dengan beragam pakaian yang dikenakan. Aku tersenyum malu. Aku berniat beranjak dari lokasi itu, hingga kudengar laki-laki tadi berbicara lagi tentang kisah di sekitar Klenteng Cu An Kiong yang penuh misteri. Tidak ada yang tahu pasti kapan klenteng itu berdiri, tapi ada 3 versi yang diceritakan lelaki tadi. Aku tidak jadi melangkah. Aku mencari tempat yang agak teduh, dan ikut mendengarkan cerita laki-laki tadi. Sepertinya versi pertama dan kedua sengaja dihembuskan untuk menutupi fakta yang sebenarnya, mengingat dulunya Lasem adalah daerah pusat perlawanan terhadap VOC. Klenteng ini dianggap klenteng yang tertua di Lasem. Lelaki itu meneruskan kuliahnya. Dia menunjuk sebuah menara di kanan pintu masuk. Itu yang disebut Menara Besi atau Kie Kwa. Menara ini dulunya sebagai petunjuk arah bagi para perantau.

Bersambung di bagian 2, paragraf 3-5. ***

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X