Renungan Harian Masa Prapaskah Minggu Kelima, 'Hukum Tabur Tuai'

photo author
Siwi Susilaningsih, Terpantau
- Senin, 18 Maret 2024 | 07:15 WIB
Renungan Harian Masa Prapaskah Minggu Kelima, 'Hukum Tabur Tuai'
Renungan Harian Masa Prapaskah Minggu Kelima, 'Hukum Tabur Tuai'

Terpantau.com - Dalam rangkaian Paskah, terdapat masa Prapaskah yang terdiri dari 6 Pekan, yaitu Pekan Pertama, Pekan Kedua,Pekan Keempat sampai keenam dan kemudian dilanjutkan dengan Pekan Suci. Tentunya renungan dari hari ke hari dapat berbeda.

Masa Pra Paskah Pekan Pertama sampai keenam diisi dengan puasa dan pantang. Juga yang tak kalah penting adalah merenung atau retreat yang artinya mundur.

Mundur dari beberapa kebiasaan sehari-hari dengan maksud lebih memberikan ruang hati untuk mengadakan renungan pribadi.

Renungan hari ini adalah Renungan Masa Pra Paskah Minggu Kelima.

Baca Juga: Novel Pentigraf Eve, Novel Siwi Susilaningsih Bagian 5 Persemaian Hati Tuaian Jiwa, 'Dia yang Memasrahkan Jiwa'

Karma berarti perbuatan, sedangkan hukum karma adalah hukum sebab-akibat yang berlaku dalam alam semesta. Dalam konsep Karma semua pengalaman hidup manusia di masa lalu, sekarang, dan masa depan saling berhubungan.

Dengan kata lain, sikap di masa lalu menentukan nasib di masa kini, dan sikap di masa kini menentukan nasib di masa depan. Konsep ini pada awalnya berasal dari India kuno dan masih dipertahankan dalam filsafat Hindu, Buddha, Jain, dan Sikh.

Meski dalam Kekristenan tak ada ajaran khusus mengenai karma, tetapi secara universal hukum Karma menjadi bagian dalam hidup manusia.

Orang-orang yang telah menerima hikmat dan pengetahuan hendaknya tidak menjadi pongah dan sombong, lalu hanya memperkaya diri atau kelompoknya sendiri.

Baca Juga: DPR Minta Pemerintah Percepat Pengesahan Thom Haye, Ragnar Oratmangoen dan Maarten Paes Jadi WNI

Orang­orang yang sungguh tulus membantu orang kecil, miskin, susah dan menderita, biasanya merasakan damai sejahtera dalam hidup mereka. Percaya atau tidak, itulah hukum Karma yaitu apa yang kita tabur akan kita tuai pada saatnya.

Marilah kita belajar dari pesan Santo Lukas berikut ini:

“Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka.

Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Sumber: Buku Tuhan Kasihanilah Kami

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memilih Format CV: ATS Friendly atau Kreatif?

Senin, 15 Juli 2024 | 09:12 WIB

10 Kota dengan Biaya Hidup Termurah di Indonesia

Kamis, 11 Juli 2024 | 12:21 WIB
X