Abu dipersiapkan dengan cara membakar daun palem dari perayaan Minggu Paskah tahun sebelumnya.
Dan pada hari itu umat memperoleh tanda salib dari abu sebagai simbol yang mengingatkan akan ritual Israel kuno di mana seseorang melakukan penaburan abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, perkabungan, penyesalan, dan pertobatan.
Itulah tradisi Yahudi kuno sebagaimana terlukis misalnya dalam Kitab Ester 4:1,3.
Setelah Mordekhai mengetahui segala yang terjadi itu, ia mengoyakkan pakaiannya, lalu memakai kain kabung dan abu, kemudian keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil melolong- lolong dengan nyaring dan pedih.
Dengan demikian datanglah ia sampai ke depan pintu gerbang istana raja, karena seorang pun tidak boleh masuk pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung.
Baca Juga: Pangsit atau Jiaozi, Makanan Wajib yang Tak Boleh Ketinggalan Pada Perayaan Imlek. Ini Alasannya!
Di tiap-tiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis; oleh banyak orang dibentangkan kain kabung dengan abu sebagai lapik tidurnya.
Dalam Mazmur 102:10: penyesalan juga digambarkan dengan memakan abu: Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan, oleh karena marahMu dan geramMu, sebab Engkau telah mengangkat aku dan melemparkan aku.
Dan pada hari itu bacaan di gereja diambil dari Kitab Suci bagian kitab Samuel 2 Samuel 11-12 perihal raja Daud yang berzinah dan kemudian bertobat.
Lalu Daud memegang pakaiannya dan saat itu pula mengoyakkannya; dan semua orang yang bersama-sama dengan dia berbuat demikian juga.
Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat TUHAN dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang.
Pada tradisi gereja, banyak orang Katolik menganggap hari Rabu Abu sebagai hari untuk mengingat kefanaan seseorang.
Pada hari ini umat Katolik berusia 18–59 tahun diwajibkan berpuasa, dengan batasan makan kenyang paling banyak satu kali dalam sehari, dan berpantang. Banyak retret pribadi dilakukan dengan mengingat tanda tanda pertobatan: “Hanya debulah aku di bawah kaki Mu, Tuhan. ***