Renungan Hari Rabu Abu: 'Hanya Debulah Aku Di Bawah KakiMu Tuhan'

photo author
Siwi Susilaningsih, Terpantau
- Selasa, 6 Februari 2024 | 14:15 WIB
Renungan Hari Rabu Abu: 'Hanya Debulah Aku Di Bawah KakiMu Tuhan' (Bonsernews.com/Unsplash Thays Orrico)
Renungan Hari Rabu Abu: 'Hanya Debulah Aku Di Bawah KakiMu Tuhan' (Bonsernews.com/Unsplash Thays Orrico)

Abu dipersiapkan dengan cara membakar daun palem dari perayaan Minggu Paskah tahun sebelumnya.

Baca Juga: Pangeran William Kembali, Setelah Mendampingi Istrinya Kate Middleton Pada Masa Pemulihan Pasca Operasi Perut

Dan pada hari itu umat memperoleh tanda salib dari abu sebagai simbol yang mengingatkan akan ritual Israel kuno di mana seseorang melakukan penaburan abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, perkabungan, penyesalan, dan pertobatan.

Itulah tradisi Yahudi kuno sebagaimana terlukis misalnya dalam Kitab Ester 4:1,3.

Setelah  Mordekhai  mengetahui  segala  yang terjadi  itu,  ia  mengoyakkan  pakaiannya,  lalu memakai kain kabung dan abu, kemudian keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil melolong- lolong dengan nyaring dan pedih.

Dengan demikian datanglah ia sampai ke depan pintu gerbang istana raja, karena seorang pun tidak boleh masuk pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung.

Baca Juga: Pangsit atau Jiaozi, Makanan Wajib yang Tak Boleh Ketinggalan Pada Perayaan Imlek. Ini Alasannya!

Di tiap-tiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar  di  antara  orang  Yahudi  disertai  puasa  dan ratap tangis; oleh banyak orang dibentangkan kain kabung dengan abu sebagai lapik tidurnya.

Dalam Mazmur 102:10: penyesalan juga digambarkan dengan  memakan  abu:  Sebab  aku  makan  abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan, oleh karena  marahMu   dan   geramMu, sebab Engkau telah mengangkat aku dan melemparkan aku.

Dan pada hari itu bacaan di gereja diambil dari Kitab  Suci  bagian  kitab  Samuel 2 Samuel 11-12 perihal  raja  Daud yang berzinah dan kemudian bertobat.

Baca Juga: Siapa Raja Sobe Sonbe III Dari Kerajaan Timor yang Diusulkan Menjadi Pahlawan Nasional Oleh Politikus Gerindra? Simak Yuk!

Lalu  Daud  memegang  pakaiannya  dan  saat  itu pula mengoyakkannya; dan semua orang yang bersama-sama  dengan  dia  berbuat  demikian  juga.

Dan   mereka   meratap,   menangis   dan   berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat TUHAN dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang.

Pada tradisi gereja, banyak orang Katolik menganggap hari Rabu Abu sebagai hari untuk mengingat kefanaan seseorang.

Pada hari ini umat Katolik berusia 18–59 tahun diwajibkan berpuasa, dengan batasan makan kenyang paling banyak satu kali dalam sehari, dan berpantang. Banyak retret pribadi dilakukan dengan mengingat tanda tanda pertobatan: “Hanya debulah aku di bawah kaki Mu, Tuhan. *** 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Sumber: Buku Tuhan Kasihanilah Kami

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memilih Format CV: ATS Friendly atau Kreatif?

Senin, 15 Juli 2024 | 09:12 WIB

10 Kota dengan Biaya Hidup Termurah di Indonesia

Kamis, 11 Juli 2024 | 12:21 WIB
X