Waspada! Puncak Kenaikan Kasus Covid-19 Varian Omicron Paling Lambat Awal Tahun Baru

photo author
Kurniasih Budi, Terpantau
- Rabu, 9 November 2022 | 15:23 WIB
Tren kenaikan kasus Covid-19 beberapa waktu belakangan terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Pemerintah memprediksi puncak kenaikan kasus Omicron terjadi paling lambat awal tahun baru 2023. (instagram.com/satgasperubahanperilaku)
Tren kenaikan kasus Covid-19 beberapa waktu belakangan terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Pemerintah memprediksi puncak kenaikan kasus Omicron terjadi paling lambat awal tahun baru 2023. (instagram.com/satgasperubahanperilaku)

Terpantau.com Tren kenaikan kasus Covid-19 beberapa waktu belakangan terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Pemerintah memprediksi puncak kenaikan kasus Omicron terjadi paling lambat awal tahun baru 2023.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyebutkan tren kenaikan kasus Covid-19 akibat pengaruh sejumlah subvarian terbaru Omicron di Indonesia yang puncaknya paling lambat terjadi pada awal tahun baru 2023.

Namun demikian, puncak kasus Covid-19 bisa saja terjadi mulai Desember 2022 jika penularan terjadi lebih cepat. Kementerian Kesehatan memperkirakan sekitar 1,5 bulan sekarang puncak kasus Covid-19 bakal terjadi.

Baca Juga: Mark NCT Positif Covid-19, Konser NCT Dream Hanya OT6

"Dugaan kami, karena ini mulai terjadi (peningkatan), mungkin paling lambat dalam 1,5 bulan puncaknya kita capai. Saya rasa di Desember 2022 atau paling lambat Januari 2023 puncaknya bisa kita lihat," kata Budi Gunadi dalam Rapat Kerja Kemenkes bersama Komisi IX DPR RI yang disiarkan secara live streaming melalui Instragram @tvparlemen, Selasa (8/11/2022).

Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa subvarian terbaru Omicron penyebab kenaikan gelombang Covid-19 di dunia saat ini adalah BA.2.75 yang terbanyak terjadi di India. Sementera itu, XBB paling banyak terjadi di Singapura dan BQ.1 yang dominan terjadi di Eropa dan Amerika Serikat.

"Contohnya, subvarian XBB sempat membawa kasus per hari sampai 8.500 di Singapura. Sebagai perbandingan di Indonesia sekarang, sekitar 5.000-an kasus," ucap Budi

Ciri Omicron XBB

Subvarian XBB yang diamati di Singapura memiliki ciri angka peningkatan kasus yang cepat. Namun demikian subvarian ini memiliki tren penurunan angka kasusnya cepat bila dibandingkan dengan subvarian Omicron lainnya, seperti BA.4 dan BA.5.

Baca Juga: Waspadai Risiko Long Covid-19 pada Anak-Anak

Selain itu, ciri XBB yakni puncak kasus diperkirakan mendekati situasi subvarian BA.4 dan BA.5, tetapi di bawah situasi puncak BA.1 atau BA.2.

Sebagai informasi, dominasi kasus subvarian Omicron BA.1 dan BA.2 terjadi di Indonesia pada Januari dan Februari 2022. Sementara itu, BA.4 dan BA.5 terjadi pada Juli dan Agustus 2022.

Layanan Pasien Covid-19 Lewat Telemedicine

Pemerintah meminta masyarakat untuk memanfaatkan akses telemedicine Covid Isolasi Mandiri (Isoman) Kementerian Kesehatan. 

Melalui layanan kesehatan ini masyarakat yang positif Covid-19 mendapatkan layanan konsultasi gratis dan layanan obat gratis.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Kurniasih Budi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X