“Kalau diusir, dia yang marah sampai dikasih duit. Minta duitnya Rp25.000 sampai Rp100.000,” lanjutnya.
Sementara beberapa warganet lainnya turut memberikan kesaksian pernah mengalami kejadian serupa.
“Duh, pernah lagi. Untung udah diceritain sama tetangga kos,” aku pemilik akun @_ddanay.
“Pas gue ngontrak di Cikarang, gedor maksa minta Rp35.000 buat obat nyamuk di bak. Maksa terus, dongkol banget,” tulis akun @permatasiska13.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: IMF, Bank Dunia, Nilai Positif Kebijakan Fiskal Indonesia
Warganet lain dengan akun @machik_chika membeberkan bahwa aksi tersebut juga dilakukan dengan alasan dana untuk acara keagamaan.
“Sampai Bekasi kota tuh, minta-minta sumbangan biasanya segerombolan emak-emak yang datang dengan alasan buat Maulid, buat anak yatim, dan lainnya. Emang nggak ada sopannya, pagar rapat dan tinggi aja digedor,” tulisnya.
“Sering banget kayak gitu, kalau nggak keamanan Rp25.000 ya tukang semprot nyamuk, mana maksa Rp20.000,” tulis akun @dii****r
Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Motor vs Bus di Flyover Jakbar
Modus Lama yang Terus Berulang
Tak dianggap remeh, beberapa waktu lalu Kepolisian menangkap dua perempuan yang menjadi pelaku pungutan liar dengan mengatasnamakan pemerintah setempat.
Saat itu, keduanya meminta sumbangan sebagai kontrol lingkungan untuk pengamanan.
Masing-masing warga, baik penghuni rumah kontrakan maupun kos-kosan harus membayar Rp35.000.***