87,46% Produksi Sawit Indonesia Berada di 10 Provinsi Ini: Kenapa Harga Minyak Goreng Selangit?

photo author
Tasia Wulandari, Terpantau
- Sabtu, 19 Maret 2022 | 20:46 WIB
Ilustrasi kelapa sawit.  (advikblue/vecteezy)
Ilustrasi kelapa sawit. (advikblue/vecteezy)

TERPANTAU - Indonesia merupakan penghasil terbesar minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sedunia. Riau merupakan provinsi penghasil terbesar kelapa sawit terbesar di Sumatra sekaligus nomor satu di Indonesia. Bersama sembilan provinsi lainnya, Riau menyumbang 87,46% dari keseluruhan produksi kelapa sawit Indonesia.

Rata-rata produksi sawit di Riau sebesar 8.540.182 ton atau sebesar 21,47 persen dari total produksi kelapa sawit Indonesia pada 2019. Pada 2020, kontribusi Riau sebesar 19,9 persen dari keseluruhan produksi kelapa sawit pada skala nasional, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 29 Oktober 2021. Tetap saja, Riau memuncaki tangga teratas, mengungguli sembilan provinsi lain di Indonesia.

Berikut 10 provinsi penghasil terbesar kelapa sawit beserta total produksinya pada 2020:

  1. Riau: 9.513.208 ton
  2. Kalimantan Tengah: 7.664.841 ton
  3. Sumatra Utara: 5.647.313 ton
  4. Kalimantan Barat: 5.235.299 ton
  5. Sumatra Selatan: 4.049.156 ton
  6. Kalimantan Timur: 3.988.883 ton
  7. Jambi: 2.884.406 ton
  8. Kalimantan Selatan: 1.665.397 ton
  9. Aceh: 1.133.347 ton
  10. Sumatra Barat: 1.253.394 ton

Penurunan produksi kelapa sawit dan turunannya, termasuk CPO, turut memengaruhi harga minyak goreng berbahan baku kelapa sawit. Penurunan produksi memicu kenaikan harga CPO sedunia. Ditambah pandemi Covid-19, harga CPO sedunia pada 2021 tercatat naik hingga mencapai 36,30 persen secara year-on-year.

Baca juga: Sulit Normalisasi Harga Minyak Goreng, Mendag Minta Maaf

Pada saat yang sama di Indonesia, permintaan akan minyak goreng berbahan baku kelapa sawit naik sebesar 6 persen menjadi 18,42 juta ton pada 2021 dibanding 17,34 juta ton pada 2020. Dalam periode yang sama, produksi CPO Indonesia turun sebesar 0,31 persen menjadi 46,88 juta ton pada 2021 ketimbang 47,03 juta ton pada tahun sebelumnya. Harga minyak goreng kemasan pun membubung.

Merespons kenaikan harga minyak goreng kemasan, pemerintah kemudian menerbitkan kebijakan subsidi minyak goreng. Sejumlah pengamat menilai kebijakan kurang tepat, lantaran yang disubsidi adalah minyak goreng kemasan. Padahal, 61 persen atau lebih dari separuh konsumsi minyak goreng rumah tangga di Indonesia merupakan minyak curah alih-alih minyak goreng kemasan. Lalu, kenapa harga minyak goreng kemasan belum juga turun?

Baca juga: Pemerintah Cabut Aturan HET Minyak Goreng Kemasan

Ekonom Faisal Basri mengingatkan supaya masalah kelangkaan sekaligus kenaikan harga minyak goreng dikaji hingga ke hulu. Sebab, mungkin saja, “ada masalah interaksi antara pabrik kelapa sawit, pemilik kebun kelapa sawit dan perusahaan minyak goreng,” kata Faisal. Kelangkaan minyak goreng yang meningkatkan harga komoditas tersebut juga terkait dengan pergeseran konsumsi CPO dalam negeri, yakni dari industri pangan ke biodiesel.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Sumber: kompas.com, beritasatu.com, katadata.co.id, Badan Pusat Statistik

Tags

Rekomendasi

Terkini

Harga Minyak Melejit, APBN 2026 Terancam Jebol

Senin, 30 Maret 2026 | 11:38 WIB
X