Terpantau.com – Banyak sekali bangunan wihara atau klenteng di Indonesia. Semua wihara atau klenteng itu mempunyai kisahnya sendiri-sendiri.
Mungkin agak sukar membedakakan antara wihara dan klenteng karena adanya alasan politis dimasa lalu. Wihara adalah rumah ibadah agama Buddha, bisa juga dinamakan kuil. Klenteng adalah rumah ibadah penganut taoisme, maupun konfuciusisme.
Karena di Indonesia, kebanyakan yang pergi ke wihara atau kuil atau klenteng umumnya adalah etnis Tionghoa, maka menjadi agak sulit untuk dibedakan, karena umumnya sudah terjadi sinkritisme antara Buddhisme, Taoisme, dan Konfuciusisme.
Kali ini mari ceritakan tentang Wihara atau Klenteng Fu De Gong atau Amurva Bhumi, Jatinegara.
Wihara atau klenteng ini semula bernama Fu De Gong atau Penguasa Berkah dan Kebajikan.
Usia dari wihara atau klenteng ini sudah lebih dari 329 tahun.
Klenteng atau wihara Amurva Vhumi ini merupakan merupakan wihara tertua di Jakarta Timur dan nomor dua tertua di Jakarta setelah Klenteng Jin De Yuan di kawasan Pecinan Lama, Glodok, Jakarta Barat.
Berdasarkan sumber dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Wihara Fu De Gong dibangun pada akhir abad 19 dengan arsitektur Pseudeo Cina.
Baca Juga: Alstonia scholaris? Simak Karakteristik, Manfaat dan Mengapa Pohon Pule Disebut Pohon Sarjana
Tuan rumah atau Dewa utama di wihara atau klenteng Amurva Bhumi ini adalah dewa Pak Kung Lao Ye.
Dewa Pak Kung Lao Ye adalah dewa yang melambangkan kesuksesan berdagang.
Pemilihan dewa utama di wihara Amurva Bhumi ini berlandaskan kedekatan tempat dengan Pasar Lama Jatinegara atau Pasar Mester.
Menurut cerita, dulu dipilih disini karena dekat dengan pasar. Biasanya banyak pedagang yang berdoa di wihara atau klenteng disini memohon kesuksesan.
Artikel Terkait
Jelajah Bangunan Wihara atau Klenteng Di Indonesia: Toasebio, Glodok Jakarta Barat (Part 1)
Jelajah Bangunan Wihara atau Klenteng Di Indonesia: Kong Hwie Kiong, Kebumen (Part 2)