Besarnya alokasi tersebut, kata Noviardi, sejalan dengan tingginya arus pemudik menuju wilayah itu yang diperkirakan mencapai sekitar 38 juta orang.
Menurut Noviardi, besarnya arus manusia tersebut secara langsung memicu lonjakan konsumsi lokal, terutama pada sektor perdagangan ritel, kuliner, transportasi lokal, hingga jasa pariwisata daerah.
Baca Juga: Pemerintah Pastikan Kemantapan Jalan Nasional untuk Mudik Lebaran
Dalam praktiknya, nilai belanja riil masyarakat bahkan dapat melampaui besaran uang tunai yang dialokasikan karena uang yang sama berputar berulang dalam aktivitas ekonomi masyarakat.
Sebaliknya, beberapa wilayah di luar jalur utama mudik nasional menerima distribusi uang yang jauh lebih kecil. Sulawesi Tenggara misalnya hanya memperoleh alokasi sekitar Rp1,2 triliun atau sekitar 0,65 persen dari total distribusi nasional.
Kondisi tersebut terjadi karena intensitas arus mudik menuju wilayah tersebut relatif kecil dan struktur ekonominya lebih banyak bertumpu pada sektor pertambangan serta perikanan yang cenderung stabil sepanjang tahun.
Baca Juga: Prabowo Dorong Sawit dan Singkong jadi Pengganti BBM
Noviardi menilai fenomena tersebut menunjukkan bahwa dampak ekonomi mudik sangat ditentukan oleh mobilitas penduduk. Wilayah yang menjadi tujuan utama pemudik akan mengalami lonjakan konsumsi yang signifikan.
Sementara daerah yang tidak menjadi jalur utama arus mudik hanya mengalami peningkatan aktivitas ekonomi yang relatif terbatas.
Ia juga mencatat bahwa nilai perputaran ekonomi mudik tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Lebaran 2025, pergerakan sekitar 154,6 juta pemudik menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp137,9 triliun.
Baca Juga: Kronologi Dugaan Bupati Rejang Lebong Terima Fee dari Kontraktor
Peningkatan nilai transaksi tahun ini antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya daya beli masyarakat serta berbagai program pemerintah seperti mudik gratis yang turut menyuntik tambahan konsumsi di daerah.
Menurut Noviardi, mudik pada dasarnya merupakan mekanisme redistribusi likuiditas nasional dari kota besar ke daerah. Uang yang selama ini terkonsentrasi di pusat ekonomi berpindah sementara ke desa dan kota kecil melalui konsumsi pemudik, transaksi keluarga, serta aktivitas ekonomi lokal.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa mudik bukan sekadar tradisi sosial, tetapi juga mekanisme ekonomi yang memindahkan likuiditas dalam skala besar dari kota ke desa. Uang beredar menjadi fondasi, tetapi belanja pemudik yang benar-benar menggerakkan ekonomi daerah,” katanya.
Artikel Terkait
Perkuat Penanganan Hukum, Pelindo Jambi Gandeng Kejaksaan
Viral Abu Janda Kena Skakmat Feri Amsari saat Debat
Beredar Rekaman CCTV Gerombolan Orang Diduga Maling yang Nyamar Jadi Tamu
Beredar Video Kakek yang Diduga Lecehkan Wanita di Sukabumi
Pemerintah Pastikan Kemantapan Jalan Nasional untuk Mudik Lebaran
Daftar 10 Tol Fungsional Selama Mudik Lebaran 2026
Kronologi Dugaan Bupati Rejang Lebong Terima Fee dari Kontraktor
Prabowo ke Danantara: Jangan Ada Laporan Palsu yang Menyenangkan
Prabowo Dorong Sawit dan Singkong jadi Pengganti BBM
Kronologi Pria Bunuh Mantan Pasangan Sesama Jenisnya di Batam