Novel Pentigraf Eve, Novel Siwi Susilaningsih Bagian 4 Menabur Harap Di Muntilan, 'Nasibku Ditentukan Di Meja Makan'

photo author
Siwi Susilaningsih, Terpantau
- Selasa, 26 Desember 2023 | 15:15 WIB
Novel Pentigraf Eve, Novel Siwi Susilaningsih Bagian 4 Menabur Harap Di Muntilan, 'Nasibku Ditentukan Di Meja Makan' (pixabay.com raniramli-731298)
Novel Pentigraf Eve, Novel Siwi Susilaningsih Bagian 4 Menabur Harap Di Muntilan, 'Nasibku Ditentukan Di Meja Makan' (pixabay.com raniramli-731298)

Terpantau.comNovel Pentigraf Eve, Novel Siwi Susilaningsih Bagian 4 Menabur harap Di Muntilan, dengan tokoh Eve, Erwin dan Ryan. Novel pentigraf ini, disajikan satu pentigraf atau cerita pendek tiga paragraf yang berkesinambungan dengan pentigraf berikutnya.

Novel pentigraf novel Siwi Susilaningsih, berkisah tentang kisah cinta antara seorang perempuan unmarried, Eve beranak satu yang ditinggal suaminya karena hilang dalam satu kerusuhan politik. Pada saat mencari kejelasan tentang suaminya, ia bertemu dengan dua lelaki yaitu Erwin dan Ryan.

Kisah cinta antara Eve dan kedua lelaki tadi yaitu Erwin dan Ryan sangat unik. Disajikan dalam novel pentigraf, novel Siwi Susilaningsih ini serasa segar dan aktual. Bagaimana cerita yang terjalin sungguh memberikan warna baru bagi pembaca.

Baca Juga: Asal Usul Kerststal: Kandang Natal Atau Gua Natal yang Belum Banyak Diketahui, Elemen Apa Saja yang Dipajang? Simak Yuk!

Eve bekerja di bidang yang berhubungan dengan parfum sesuai jurusan yang diambilnya sewaktu kuliah.

Erwin seorang akuntan publik, teman SMA suami Eve yang hilang.

Ryan, seorang artis atau seniman patung dan seni instalasi yang lain.

Stay Tune!                   

Bagian 4. Menabur Harap Di Muntilan.

Baca Juga: Animo Tinggi Warga Solo Sambut Kehadiran Capres 2024 Ganjar Pranowo di Car Free Day

Episode 114. Nasibku Ditentukan Di Meja Makan

Aku terdiam cukup lama untuk menguasai keadaan. Erwin rupanya paham benar kalau apa yang baru saja dikatakannya itu mengejutkan. Dia memetik bunga mawar warna burgundy dan diserahkannya padaku. “Tarik nafas Eve…” Kata-kata Erwin justru membuatku tertawa karena mengingatkanku pada seseorang yang menyemangati orang yang mau melahirkan. Mau tak mau Erwin ikut tertawa. Suasana yang cair membuat kami kembali ke masalah biasa sehari-hari. Erwin lalu mengajakku berjalan ke arah pintu kaca lebar di samping kebun mawar. Dia membukanya. “Ini kamar ku, Eve.” Aku kembali ternganga. Kamar tidur Erwin berhadapan dengan Taman Mawar. Ada kursi goyang untuk duduk santai menikmati pemandangan bunga-bunga. Di ujung sana ada juga pintu. Pasti itu pintu masuk dari dalam rumah.

Baca Juga: Jelang Debat Cawapres, Ganjar Pranowo: Banyak Isu Ekonomi yang akan Ditonjolkan

“Ayo masuk…,” ajak Erwin. Hatiku menolak keras. Aku merasa tidak pantas masuk ke kamar Erwin. Selain rasa kepantasan yang menggelayutiku juga bayangan mantan istri Erwin seolah berjalan lambat di pelupuk mataku. “Aku mau menghabiskan teh dulu ah.” Aku berjalan ke arah dapur lagi dan duduk manis menghabiskan teh yang dibuat Erwin. Erwin kembali tertawa mengikutiku.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X