Terpantau.com Kementerian Kesehatan mengumumkan kasus Covid-19 naik sejak 3 minggu terakhir. Sebagai antisipasi, masyarakat sebaiknya mengenali gejala Covid-19 varian Omicron yang aktif bermutasi ini.
Saat ini, subvarian baru Covid-19 Omicron XBB sudah mendominasi di Indonesia. Covid-19 varian Omicron telah memunculkan dua subvarian baru yaitu XBB dan XBC.
Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Erlina Burhan menjelaskan, gejala yang ditimbulkan oleh subvarian XBC dan XBB ini umumnya sama dengan subvarian Omicron yang lain.
Baca Juga: Cek Fakta Covid-19 Subvarian Omicron BA.2.75 Centaurus
Namun demikian, gejala berat dapat terjadi mengingat keduanya adalah rekombinan dari subvarian sebelumnya.
XBB merupakan rekombinan sub turunan omicron BA.2.10.1 dan BA.2.75, dengan mutasi di S1 dan 14 mutase tambahan di protein spike BA.2. Sementara itu, XBC adalah rekombinan Delta (B.1.617.2) dan omicron BA.2.
Omicron Subvarian XBB
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan telah mengkonfirmasi adanya kasus XBB di Indonesia.
Subvarian XBB pertama kali ditemukan pada Agustus 2022 di India. Data WHO menyebutkan, sejak 17 Oktober 2022, XBB sudah dilaporkan ada di 26 negara, seperti Australia, Bangladesh, Denmark, India, Jepang, dan Amerika Serikat.
Menurut observasi dari negara yang sudah terdapat XBB, penularan subvarian ini dianggap sama dengan varian lain yang ada.
Baca Juga: Waspada! Puncak Kenaikan Kasus Covid-19 Varian Omicron Paling Lambat Awal Tahun Baru
XBB merupakan subvarian yang predominan di Singapura, mencapai hingga 54 persen kasus pada minggu kedua Oktober 2022, yang pada minggu sebelumnya hanya 22 persen.
WHO menyebutkan bahwa subvarian XBB bisa memicu lonjakan kasus di akhir tahun dan puncaknya di bulan Januari
Omicron Subvarian XBC
Subvarian XBC sudah menyebar di negara tetangga, yaitu Filipina. Kasus XBC di Filipina sudah mencapai 193 kasus.
Artikel Terkait
15 Ribu Kasus Kematian dalam Sepekan Akibat COVID-19, Begini Peringatan WHO!
Pengaruh Pandemi Covid-19 Terhadap Rabun pada Anak-Anak