'Hanya Debulah Aku Di Bawah KakiMu Tuhan' Renungan Hari Rabu Abu Masa Pra Paskah 2023

photo author
Siwi Susilaningsih, Terpantau
- Rabu, 22 Februari 2023 | 06:06 WIB
 (Palm Ash – Foto Courtesy: Ritche Steven)
(Palm Ash – Foto Courtesy: Ritche Steven)

Terpantau.com - Sebagaimana  tradisi dari Gereja  Katolik  yang tercermin dalam kalender Liturgi 2023, masa Pra Paskah dimulai dengan hari Rabu Abu 22 Februari dan berakhir pada hari Jumat Agung 7 April 2023. Waktu yang cukup untuk renungan.

Dalam rangkaian Paskah, terdapat masa Pra Paskah yang terdiri dari 6 minggu, dan kemudian dilanjutkan dengan Pekan Suci. Tentunya renungan dari hari ke hari dapat berbeda.

Masa Pra Paskah diisi dengan puasa dan pantang. Juga yang tak kalah penting adalah merenung atau retreat yang artinya mundur. Mundur dari beberapa kebiasaan sehari-hari dengan maksud lebih memberikan ruang hati untuk mengadakan renungan pribadi.

Baca Juga: Mengenal Jerry Yan, Aktor Utama The Forbidden Flower yang Awet Muda dan Menawan

Kali ini Terpantau.com akan menyajikan renungan harian yang akan dimulai sejak Rabu Abu, 22 Februari 2023 sampai dengan Pekan Suci.

Renungan hari ini adalah Renungan Hari Rabu Abu.  

Hanya debulah aku di bawah kaki Mu, Tuhan

Tentu   kami  sangat menghormati   tradisi   gereja   Katolik yang usianya telah berabad-abad dengan mewariskan  tanda-tanda tentang siklus kehidupan dan keselamatan. Tanda - tanda  itu  mengingatkan  orang  tentang  kehadiran Allah kepada manusia. Melalui tanda-tanda itu pula Allah telah mengi-ngatkan   manusia   bahwa   ia   mampu sampai ke hadiratNya. Orang diingatkan kembali akan penyelenggaraan illahi dan belas kasihNya yang tak terputus.

Allah selalu hadir, bukan hanya dalam suasana kegembiraan, dan kemuliaan, melainkan juga dalam suasana perkabungan. Dalam suasana perkabungan itu abu adalah adalah materi yang dipakai sebagai simbol. Orang diingatkan kembali lewat tanda perkabungan itu untuk masuk ke dalam suasana pertobatan, orang diingatkan kembali merendahkan diri menuju kemenangan kebangkitan Kristus.

Baca Juga: Novel Penagraf Ivy Bagian II Jakarta Jakarta Jakarta, 'Sang Kurator'

Tanda itu oleh gereja diselenggarakan sebagai hari Rabu Abu yaitu hari pertama masa Prapaska dalam liturgi tahunan  gerejawi.  Secara  perhitungan kalender, hari itu ditentukan jatuh pada hari Rabu, 40 hari sebelum hari Paskah tanpa menghitung hari - hari Minggu, atau 44 hari termasuk hari Minggu sebelum perayaan wafat Kristus pada hari Jumat Agung.

Nama Rabu Abu berasal dari pengolesan abu pertobatan di   dahi para  jemaat  disertai  dengan ucapan "Bertobatlah dan percayalah pada Injil" atau diktum "Ingatlah bahwa engkau adalah debu, dan engkau akan kembali menjadi debu".

Abu dipersiapkan dengan cara membakar daun palem dari perayaan Minggu Paskah tahun sebelumnya. Dan pada hari itu umat memperoleh tanda salib dari abu sebagai simbol yang mengingatkan akan ritual Israel kuno di mana seseorang melakukan penaburan abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, perkabungan, penyesalan, dan pertobatan. Itulah tradisi Yahudi kuno sebagaimana terlukis misalnya dalam Kitab Ester 4:1,3.

Setelah  Mordekhai  mengetahui  segala  yang terjadi  itu,  ia  mengoyakkan  pakaiannya,  lalu memakai kain kabung dan abu, kemudian keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil melolong- lolong dengan nyaring dan pedih. Dengan demikian datanglah ia sampai ke depan pintu gerbang istana raja, karena seorang pun tidak boleh masuk pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Sumber: Buku Tuhan Kasihanilah Kami

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memilih Format CV: ATS Friendly atau Kreatif?

Senin, 15 Juli 2024 | 09:12 WIB

10 Kota dengan Biaya Hidup Termurah di Indonesia

Kamis, 11 Juli 2024 | 12:21 WIB
X