Kisah Manusia Ikan Dan Asal Usul Labuan Bajo Lokasi Konferensi Tingkat Tinggi KTT ASEAN, Jangan Dilewatkan

photo author
Siwi Susilaningsih, Terpantau
- Kamis, 11 Mei 2023 | 07:15 WIB
Kisah Manusia Ikan Dan Asal Usul Labuan Bajo Lokasi  Konferensi Tingkat Tinggi KTT ASEAN, Jangan Dilewatkan  (Pixabay/bowoikh)
Kisah Manusia Ikan Dan Asal Usul Labuan Bajo Lokasi Konferensi Tingkat Tinggi KTT ASEAN, Jangan Dilewatkan (Pixabay/bowoikh)

Terpantau.com - Konferensi Tingkat Tinggi KTT ASEAN 2023 diselenggarakan di Labuan Bajo, tempat wisata prioritas. Keindahan Labuan Bajo mungkin sudah terbayang di benak, tetapi bagaimana asal usul atau kisah di balik penamaan Labuan Bajo dan kisah manusia ikan disana.

Labuan Bajo tempat Konferensi Tingkat Tinggi KTT ASEAN 2023 tak lepas dari Flores atau dalam Bahasa Portugis disebut Cabo de Flores. Asal usul Labuan Bajo semula adalah salah satu dari dari 19 desa dan kelurahan di Kecamatan Komodo ini menyimpan kisah tentang manusia ikan.

Asal usul Labuan Bajo yang bermula dari sebuah desa kini menjadi Kota Labuan Bajo. Kota ini menyimpan  kisah manusia ikan yang sungguh unik. Pastinya hal ini menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke tempat penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi KTT ASEAN 2023.

Baca Juga: Novel Penagraf Ivy Bagian IV Get Married, 'Ikatan Masa lalu'

Melansir dari laman resmi Kemenparekraf, Labuan Bajo berasal Labuan dari kata labuhan atau berlabuh. Bajo artinya orang-orang Bajo. Kemudian desa desa yang ditempati orang-orang Bajo dan Bugis Selatan ini disebut dengan Labuan Bajo.

Sekarang Labuan Bajo menjadi ibukota Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.

Penggunaan nama dan sejarah Labuan Bajo tidak lepas dari Flores – pulau Cabo de Flores dalam bahasa Portugis.

Arti dari Cabo de Flores adalah Tanjung Bunga. Penamaan ini diberikan oleh S.M Cabot untuk menyebut timur Flores.
 
 
Pemakaian nama Flores secara resmi mulai dipakai sejak tahun 1936 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Bouwer.
 
Sedangkan nama asli dari Flores adalah Nusa Nipa yang berarti Pulau Ular. Jika ditinjau dari sudut antropologi penamaan ini lebih baik karena bermakna filosofis dan kultural.
 
Penyebutan labuan bajo yang tertua tertuang dalam  sebuah laporan berjudul Koloniale Jaarboeken Maandschrift tot Verspreiding van Kennis der Nederlansche en Buitenlandsche Overzeesche Besittingen oleh Jacques Nicolas Vosmaes di tahun 1862.
 
 
Laporan tersebut terdapat dalam artikel tahun 1833 tentang sebuah perjalanan laut menuju ‘Laboean Badjo’.
  
Suku bangsa ini merupakan kelompok etnis nomaden di laut, dan sering disebut sebagai Gipsi Laut.
 
Berdasarkan sejarah, mereka berasal dari Kepulauan Sulu di Filipina. Kemudian mereka bermigrasi ratusan tahun lalu ke Sabah dan seluruh penjuru dunia, bahkan hingga ke Kepulauan Madagaskar.

Kini Suku Bajo di Indonesia telah banyak yang beradaptasi budaya dengan masyarakat lain dan sebagian besar tidak lagi hidup nomaden.

Baca Juga: 4 Drama yang Dimainkan Wang Yuwen Pemeran Min Hui Dalam Drama Komedi Romantis The Love You Give Me (Part 3)

Mereka sekarang hidup dengan menetap di pesisir pantai dengan hunian yang sederhana.

Fakta unik tentang Suku Bajo adalah bahwa mereka merupakan manusia ikan asli Indonesia. Hal ini dikarenakan secara ajaib, tubuh mereka mengalami evolusi berupa perbesaran limpa sampai 50% lebih besar.

Dengan ukuran yang di atas rata-rata, memungkinkan mereka dapat tahan berenang di kedalaman hingga 60 meter selama 13 menit tanpa alat bantu apapun.

Menurut para peneliti terdapat gen PDE10A pada Suku Bajo. Gen ini berfungsi mengontrol hormon tiroid tertentu.

Baca Juga: 12 Contoh Soal TO Try Out Tes Skolastik SNBT UTBK 2023 Lengkap Dengan Kunci Jawaban dan Pembahasan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

5 Rekomendasi Tempat Hangout Hits di Jakarta

Jumat, 12 Juli 2024 | 13:12 WIB

8 Destinasi Liburan Sekolah yang Menyenangkan

Rabu, 5 Juni 2024 | 11:02 WIB
X