TERPANTAU, JAKARTA/JAMBI -- Penyusutan jumlah kelas menengah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dinilai menjadi sinyal serius bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.
Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai tren ini menunjukkan adanya tekanan struktural pada daya beli masyarakat yang selama ini menjadi penopang utama konsumsi domestik.
Berdasarkan data yang diolah Mandiri Institute dari Badan Pusat Statistik, jumlah kelas menengah tercatat turun dari 47,9 juta orang atau sekitar 17,1 persen populasi pada 2024 menjadi 46,7 juta orang atau 16,6 persen pada 2025.
Baca Juga: Ekonom Usul Pemerintah Batalkan Perjanjian Dagang RI-AS
Artinya, sekitar 1,2 juta orang keluar dari kelompok ini hanya dalam satu tahun. Penurunan tersebut jauh lebih besar. Sejak 2019, jumlah kelas menengah Indonesia diperkirakan telah berkurang sekitar 10 juta orang.
Di sisi lain, kata Noviardi, kelompok aspiring middle class justru meningkat hingga mencapai sekitar 142 juta orang.
“Fenomena ini menunjukkan mobilitas ekonomi masyarakat tidak lagi bergerak naik secara stabil. Sebagian justru turun ke kelompok menengah bawah akibat tekanan biaya hidup dan stagnasi pendapatan,” ujar Noviardi, Selasa, 10 Maret 2026.
Baca Juga: Dodi Sularso Dorong D'Raja Law Firm Jadi Kantor Hukum Berkelas Internasional
Ia menjelaskan, struktur konsumsi nasional juga semakin timpang. Kelompok kelas atas yang jumlahnya relatif kecil justru menguasai sekitar 70 persen konsumsi nasional.
Sementara kelas menengah bawah yang mencapai sekitar 75 juta orang hanya berkontribusi sekitar 17 persen.
Menurutnya, tekanan terhadap kelas menengah dipicu oleh berbagai faktor yang terjadi secara bersamaan. Survei menunjukkan sekitar 85 persen masyarakat merasakan kenaikan harga pangan sebagai tekanan utama.
Selain itu, dikatakan dia bahwa biaya pendidikan dan kesehatan dirasakan semakin mahal oleh sekitar 52 persen responden.
Baca Juga: Prabowo: Indonesia Aman Pangan Meski Dunia Hadapi Krisis