TERPANTAU, JAKARTA -- Dominasi Telkomsel di industri telekomunikasi nasional sepanjang 2025 memang belum tergoyahkan. Dengan 158 juta pelanggan dan 288 ribu BTS termasuk sekitar 4 ribu BTS 5G, anak usaha Telkom Indonesia itu tetap menjadi pemimpin pasar.
Bahkan dari sisi kualitas jaringan, Telkomsel menyabet 11 penghargaan global dari Opensignal, mempertegas posisinya sebagai operator dengan cakupan terluas hingga 97 persen populasi.
Namun di balik keunggulan infrastruktur tersebut, tekanan kinerja mulai terlihat. Pada kuartal III/2025, pendapatan Telkomsel tercatat turun 4,5 persen secara tahunan (year on year) menjadi Rp81,37 triliun.
Baca Juga: Anak SD di Papua Harus Tunggu Pesawat Melintas demi Bisa Menyebrang ke Sekolah
Penurunan ini terutama dipicu merosotnya Average Revenue Per User (ARPU) sebesar 7,4 persen akibat perang harga yang semakin agresif di pasar layanan data.
Ironisnya, lonjakan trafik data sebesar 17,2 persen belum mampu mengimbangi penyusutan margin.
Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai kondisi ini mencerminkan perubahan struktur industri yang semakin kompetitif dan sensitif terhadap harga. Menurutnya, model pricing premium yang selama ini menjadi kekuatan Telkomsel kini menghadapi tantangan serius.
Baca Juga: Lukisan 'Kuda Api' Karya SBY Dibeli Orang Terkaya ke-2 RI
“Pasar telekomunikasi sudah masuk fase komoditisasi. Konsumen makin rasional dan membandingkan harga secara real time. Jika Telkomsel tidak segera menyesuaikan model monetisasinya, tekanan ARPU bisa berlanjut hingga 2026,” katanya, Jum'at, 20 Februari 2026.
Di sisi lain, pesaing utama seperti Indosat Ooredoo Hutchison dinilai lebih adaptif. Dengan sekitar 95 juta pelanggan, Indosat justru mencatatkan kenaikan ARPU 2,5 persen melalui strategi segmentasi value dan paket data agresif.
Sementara itu, XL Axiata menunjukkan perbaikan efisiensi operasional pasca konsolidasi, dengan fokus pada pengendalian biaya dan optimalisasi jaringan.
Baca Juga: Trump Puji Ketegasan Prabowo di Board of Peace: Saya Tak Ingin Melawannya
Menurut Noviardi, kompetisi kini tidak lagi sekadar soal jumlah BTS atau cakupan sinyal, melainkan efisiensi modal dan kemampuan mengonversi trafik data menjadi nilai tambah.
Artikel Terkait
Trump Puji Ketegasan Prabowo di Board of Peace: Saya Tak Ingin Melawannya
Anak SD di Papua Harus Tunggu Pesawat Melintas demi Bisa Menyebrang ke Sekolah
Lukisan 'Kuda Api' Karya SBY Dibeli Orang Terkaya ke-2 RI
BI Rate 4,75 Persen dinilai Pengamat Hanya Menjaga Stabilitas
Indonesia Jadi Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Gaza
MoU Rp600 Triliun Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia–AS
Perayaan Imlek, Ramadan, dan Prapaskah Berurutan untuk Pertama Kali Sejak 1863
Indonesia Amankan Tarif 0 Persen, 4 Juta Lapangan Kerja Terima Manfaat
Pendaki Hilang di Gunung Ijen Ditemukan Selamat, Kondisinya Lemas
Tragedi Truk Kontainer Karawang, Anak Korban Cari Cincin yang Hilang