Jaringan Terluas, Margin Menipis: Dominasi Telkomsel Diuji

photo author
Redaksi Terpantau, Terpantau
- Jumat, 20 Februari 2026 | 15:22 WIB
Potret seseorang sedang memainkan smartphone di keramaian. (Ilustrasi/Terpantau.)
Potret seseorang sedang memainkan smartphone di keramaian. (Ilustrasi/Terpantau.)

TERPANTAU, JAKARTA -- Dominasi Telkomsel di industri telekomunikasi nasional sepanjang 2025 memang belum tergoyahkan. Dengan 158 juta pelanggan dan 288 ribu BTS termasuk sekitar 4 ribu BTS 5G, anak usaha Telkom Indonesia itu tetap menjadi pemimpin pasar.

Bahkan dari sisi kualitas jaringan, Telkomsel menyabet 11 penghargaan global dari Opensignal, mempertegas posisinya sebagai operator dengan cakupan terluas hingga 97 persen populasi.

Namun di balik keunggulan infrastruktur tersebut, tekanan kinerja mulai terlihat. Pada kuartal III/2025, pendapatan Telkomsel tercatat turun 4,5 persen secara tahunan (year on year) menjadi Rp81,37 triliun.

Baca Juga: Anak SD di Papua Harus Tunggu Pesawat Melintas demi Bisa Menyebrang ke Sekolah

Penurunan ini terutama dipicu merosotnya Average Revenue Per User (ARPU) sebesar 7,4 persen akibat perang harga yang semakin agresif di pasar layanan data. 

Ironisnya, lonjakan trafik data sebesar 17,2 persen belum mampu mengimbangi penyusutan margin.

Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai kondisi ini mencerminkan perubahan struktur industri yang semakin kompetitif dan sensitif terhadap harga. Menurutnya, model pricing premium yang selama ini menjadi kekuatan Telkomsel kini menghadapi tantangan serius.

Baca Juga: Lukisan 'Kuda Api' Karya SBY Dibeli Orang Terkaya ke-2 RI

“Pasar telekomunikasi sudah masuk fase komoditisasi. Konsumen makin rasional dan membandingkan harga secara real time. Jika Telkomsel tidak segera menyesuaikan model monetisasinya, tekanan ARPU bisa berlanjut hingga 2026,” katanya, Jum'at, 20 Februari 2026.

Di sisi lain, pesaing utama seperti Indosat Ooredoo Hutchison dinilai lebih adaptif. Dengan sekitar 95 juta pelanggan, Indosat justru mencatatkan kenaikan ARPU 2,5 persen melalui strategi segmentasi value dan paket data agresif.

Sementara itu, XL Axiata menunjukkan perbaikan efisiensi operasional pasca konsolidasi, dengan fokus pada pengendalian biaya dan optimalisasi jaringan.

Baca Juga: Trump Puji Ketegasan Prabowo di Board of Peace: Saya Tak Ingin Melawannya

Menurut Noviardi, kompetisi kini tidak lagi sekadar soal jumlah BTS atau cakupan sinyal, melainkan efisiensi modal dan kemampuan mengonversi trafik data menjadi nilai tambah.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi Terpantau

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Harga Minyak Melejit, APBN 2026 Terancam Jebol

Senin, 30 Maret 2026 | 11:38 WIB
X