Ia menilai Telkomsel perlu menggeser orientasi dari ekspansi fisik menuju transformasi digital telco.
Beberapa langkah strategis yang ia sarankan antara lain optimalisasi aset jaringan melalui skema network sharing untuk menekan belanja modal (capex) hingga 20–30 persen.
Kemudian pengalihan investasi ke edge computing dan layanan enterprise digital, serta pengembangan bundling berbasis kecerdasan buatan (AI) guna meningkatkan ARPU tanpa harus menaikkan tarif ritel.
Baca Juga: Trump Puji Ketegasan Prabowo di Board of Peace: Saya Tak Ingin Melawannya
“Era ekspansi BTS masif sudah lewat. Yang dibutuhkan sekarang adalah efisiensi dan inovasi model bisnis. Jika 70 persen capex diarahkan ke digitalisasi layanan dan hanya 30 persen ke infrastruktur tradisional, Telkomsel berpotensi memperkuat margin dan menjaga dominasinya,” tegasnya.
Ia mengingatkan, dominasi pelanggan dan jaringan pada 2025 belum tentu menjamin kepemimpinan pasar pada 2026. Dalam industri yang bergerak cepat seperti telekomunikasi, keunggulan kompetitif ditentukan oleh adaptasi strategi dan kecepatan membaca perubahan perilaku konsumen.
“Yang bertahan bukan sekadar yang terbesar infrastrukturnya, tetapi yang paling adaptif terhadap dinamika pasar,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Trump Puji Ketegasan Prabowo di Board of Peace: Saya Tak Ingin Melawannya
Anak SD di Papua Harus Tunggu Pesawat Melintas demi Bisa Menyebrang ke Sekolah
Lukisan 'Kuda Api' Karya SBY Dibeli Orang Terkaya ke-2 RI
BI Rate 4,75 Persen dinilai Pengamat Hanya Menjaga Stabilitas
Indonesia Jadi Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Gaza
MoU Rp600 Triliun Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia–AS
Perayaan Imlek, Ramadan, dan Prapaskah Berurutan untuk Pertama Kali Sejak 1863
Indonesia Amankan Tarif 0 Persen, 4 Juta Lapangan Kerja Terima Manfaat
Pendaki Hilang di Gunung Ijen Ditemukan Selamat, Kondisinya Lemas
Tragedi Truk Kontainer Karawang, Anak Korban Cari Cincin yang Hilang